Pendampingan dilakukan secara langsung bersama peternak mandiri dan Kelompok Jaya Sawahan, mulai dari sosialisasi usaha ramah lingkungan, pelatihan penggunaan Pro-Fit, budidaya magot, hingga penerapannya dalam pemeliharaan itik. "Model pendampingan partisipatif tersebut diharapkan membuat teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan secara mandiri oleh peternak," lanjutnya.
Ke depan, Desa Sawahan Koto Majidin diharapkan semakin kuat sebagai sentra pengembangan Itik Kerinci yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan populasi, tetapi juga menjaga kemurnian karakteristik genetik, meningkatkan produktivitas, serta memberikan nilai ekonomi bagi peternak. Rangkaian penetasan, pemantauan pertumbuhan, seleksi bibit, penerapan Pro-Fit dan magot, serta sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan Itik Kerinci sebagai kekayaan genetik dan komoditas unggulan daerah. (*)
