iklan Kelangkaan solar subsidi di Kerinci dan Merangin diduga berkaitan dengan penyaluran BBM ke aktivitas PETI. Warga meminta aparat mengusut dugaan distribusi ilegal dari SPBU ke penambang emas tanpa izin.
Kelangkaan solar subsidi di Kerinci dan Merangin diduga berkaitan dengan penyaluran BBM ke aktivitas PETI. Warga meminta aparat mengusut dugaan distribusi ilegal dari SPBU ke penambang emas tanpa izin.

JAMBIUPDATE.CO, KERINCI – Dugaan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) ilegal jenis solar bersubsidi kembali mencuat di wilayah perbatasan Kabupaten Kerinci dan Merangin. Praktik tersebut diduga menjadi salah satu penyebab kelangkaan solar di sejumlah SPBU sekaligus menopang aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang masih marak terjadi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pasokan solar menjadi kebutuhan utama untuk mengoperasikan alat berat yang digunakan dalam aktivitas PETI. Meski pengawasan di SPBU disebut telah diperketat, muncul dugaan adanya modus baru dalam pendistribusian BBM kepada para penambang ilegal.

BACA JUGA: Pelayanan Travel Safamarwa Disorot, Perbedaan Versi Muncul Terkait Penurunan Penumpang di Rawang

Seorang sumber yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengatakan, sejumlah kendaraan jenis pikap dan dump truck diduga rutin mengisi solar bersubsidi di SPBU Kumun. Setelah itu, BBM tersebut diduga dijual kembali kepada pelaku PETI dengan harga lebih tinggi.

"Setiap hari itu-itu saja kendaraan yang mengantre BBM di SPBU Kumun," ujar sumber tersebut, Jumat (24/7/2026).

BACA JUGA: Disdik Provinsi Jambi Kirim 37 Siswa Vokasi Terbaik ke LKS Nasional, Optimis Dulang Medali

Menurutnya, kendaraan-kendaraan tersebut diduga tidak menggunakan solar untuk kebutuhan operasional sebagaimana mestinya, melainkan menyalurkannya kembali kepada pelaku penambangan emas tanpa izin.

Apabila dugaan tersebut terbukti, praktik itu tidak hanya berpotensi merugikan negara karena penyalahgunaan BBM bersubsidi, tetapi juga berdampak pada masyarakat yang kesulitan memperoleh solar untuk kebutuhan usaha maupun aktivitas sehari-hari.

"Kalau ini terus dibiarkan, masyarakat kecil yang jadi korban karena sulit mendapatkan BBM," katanya.

Warga berharap aparat penegak hukum meningkatkan pengawasan di lapangan, termasuk menelusuri kendaraan yang secara rutin mengantre di SPBU untuk memastikan ada atau tidaknya penyimpangan distribusi BBM.

BACA JUGA: Bertahun-tahun Rusak, Jalan Masgo Gunung Raya di Kerinci Akhirnya Mulai Diperbaiki

"Untuk memutus urat nadi aktivitas PETI, kami berharap pihak berwajib turun langsung mengawasi dan mengikuti kendaraan-kendaraan tersebut sehingga bisa dibuktikan apakah benar ada praktik penjualan BBM ke pelaku PETI," tegasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan tersebut. Media ini juga belum memperoleh konfirmasi dari pengelola SPBU maupun aparat penegak hukum terkait informasi yang disampaikan sumber.

Masyarakat berharap dugaan penyalahgunaan solar bersubsidi dapat segera diusut secara menyeluruh agar distribusi BBM kembali tepat sasaran dan aktivitas PETI yang merusak lingkungan dapat ditekan. (Hdp)


Berita Terkait



add images