JAMBIUPDATE.CO, MUARASABAK – Usaha budidaya jamur tiram yang dijalani Sugianto, warga RT 11 Kelurahan Talang Babat, Kecamatan Muara Sabak Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), masih menghadapi kendala permodalan. Setelah delapan tahun merintis usaha sejak 2018, ia berharap adanya perhatian pemerintah daerah agar usaha yang dikelola secara mandiri tersebut dapat terus berkembang.
Di tengah kenaikan harga bahan baku, Sugianto harus memutar strategi agar usahanya tetap berjalan. Dengan kumbung berukuran 4×6 meter, ia masih mengandalkan ratusan baglog untuk menghasilkan jamur tiram yang dipasarkan ke sejumlah warung dan pasar tradisional.
BACA JUGA: Nyalakan Tungku Harapan Perajin, Hesti Haris Gandeng PetroChina Kembangkan Batik
Proses budidaya yang dijalaninya tidak sederhana. Mulai dari menyiapkan serbuk gergaji, mencampurnya dengan dedak dan kapur, mengemas media tanam ke dalam baglog, hingga melakukan sterilisasi selama delapan jam. Setelah bibit dimasukkan, baglog harus melalui masa inkubasi selama 30–40 hari sebelum jamur tumbuh.
Seluruh tahapan tersebut dikerjakan sendiri. Sugianto juga harus memastikan kondisi kumbung tetap sesuai kebutuhan pertumbuhan jamur, dengan suhu 22–28 derajat Celsius dan kelembapan 80–90 persen.
BACA JUGA: Uang Tagihan Toko Masuk Rekening Pribadi, Sales di Jambi Gelapkan Rp255 Juta
Penyiraman dilakukan dua hingga tiga kali sehari untuk menjaga kelembapan. Jika perawatan tidak maksimal, kualitas jamur dapat menurun dan berisiko tidak terserap pasar.
"Kalau telat siram sedikit saja, jamur bisa kuning dan tidak laku. Jadi harus benar-benar dijaga," ungkap Sugianto.
Persoalan lain yang kini membebani usahanya adalah biaya produksi yang terus meningkat. Harga serbuk gergaji, plastik baglog, dan bibit mengalami kenaikan, sedangkan harga jual jamur tiram masih berada di kisaran Rp22.000 hingga Rp24.000 per kilogram.
Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh semakin terbatas. Terlebih, seluruh pekerjaan mulai dari produksi, perawatan hingga pemasaran harus ditangani sendiri.
BACA JUGA: Sarat Makna Mendalam, Single 'Teringat Kamu' Diaz Shodiq Tarik Ribuan Pendengar di Platform Digital
"Biaya produksi naik terus, tapi harga jual segitu-segitu saja. Kadang kalau dihitung tenaga, waktu, dan modal, untungnya tipis sekali. Tapi saya harus bertahan, sayang kalau usaha delapan tahun ini berhenti," katanya.
