Komaruddin mengingatkan bahwa derasnya arus informasi tidak selalu diikuti peningkatan kualitas pengetahuan masyarakat. Informasi yang benar dapat bercampur dengan kabar yang belum terverifikasi, konten sensasional, hingga penipuan.
Ia juga menyoroti peran algoritma platform digital dalam membentuk pola konsumsi informasi masyarakat. Aktivitas pengguna, seperti konten yang dilihat, disukai, dan dicari, dapat memengaruhi rekomendasi informasi yang muncul berikutnya.
"Algoritma itu sebelumnya menjajah tanpa paksaan, mengendalikan tanpa paksaan," kata Komaruddin.
Menurutnya, data aktivitas pengguna menjadi salah satu kekuatan dalam ekosistem digital. Jejak penggunaan telepon pintar dapat dimanfaatkan untuk membentuk profil pengguna dan menyajikan konten berdasarkan preferensi masing-masing.
Kondisi tersebut berpotensi menciptakan ruang informasi yang semakin personal. Masyarakat dapat terus menerima informasi yang sesuai dengan kesukaannya, sementara sudut pandang berbeda semakin jarang ditemui.
Komaruddin menilai kemampuan memeriksa dan mempertanyakan kebenaran informasi menjadi semakin penting, baik bagi masyarakat, keluarga, dunia pendidikan, media, maupun pemerintah.
"Yang serius sekali adalah kita tidak dilatih untuk mengecek informasi," katanya.
