JAMBIUPDATE.CO, JAMBI — Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi kini telah memasuki fase darurat yang tak hanya menghanguskan luasan lahan, tetapi juga mengancam nyawa masyarakat akibat kepungan kabut asap beracun. Kondisi ini tergambar jelas dari lonjakan tajam Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kabupaten Muaro Jambi yang menembus angka 617 atau berada jauh di atas ambang batas kategori berbahaya pada Selasa (6/10/2026).
Secara kumulatif, total lahan yang hangus terbakar di Jambi kini telah mencapai lebih dari 4.267 hektare, dengan luasan terbesar berada di Kabupaten Batanghari.
Menyikapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ivan Wirata (IW), menegaskan bahwa penanganan pemerintah saat ini harus segera beralih fokus tidak sekadar mengejar pemadaman api di hutan."Penanganan Karhutla sekarang tidak cukup hanya melihat berapa hotspot dan berapa hektare yang terbakar. Kita juga harus melihat asap dan dampaknya terhadap masyarakat. Fire Response, Smoke Response, dan Health Response harus berjalan serentak dalam satu operasi," tegas Ivan Rabu (7/10/2026).
Selain Muaro Jambi, kualitas udara di Kota Jambi dan Kabupaten Tebo juga terpantau masuk dalam kategori berbahaya dengan ISPU di angka 300-an. Ivan mengingatkan bahwa pada level ini, respons kesehatan harus ditempatkan sejajar dengan pengerahan armada pemadam kebakaran."Ketika kualitas udara sudah masuk kategori Berbahaya, maka yang kita lindungi bukan hanya hutan dan lahan, tetapi manusia. Kelompok rentan, anak-anak, lansia, masyarakat dengan gangguan pernapasan, dan warga di sekitar lokasi kebakaran harus mendapat perhatian khusus," ungkapnya mendorong Dinas Kesehatan untuk segera turun ke lapangan.
BACA JUGA: Diza-Faried Makin Sering Bersama, Publik Mulai Bicara Duet 2029
Kondisi udara yang memburuk nyatanya juga menjadi bumerang bagi tim pemadam. Pekatnya kabut asap menyebabkan jarak pandang (low visibility) menjadi sangat terbatas, yang berujung pada lumpuhnya sebagian operasi patroli dan pesawat pengebom air (water bombing) di langit Jambi. Menyadari hal ini, Ivan mendesak Satgas Karhutla untuk segera memperkuat strategi yang bertumpu pada kekuatan pasukan darat.
"Kita tidak boleh bergantung pada langit. Water bombing dan dukungan udara tetap penting, tetapi pasukan darat (ground force) harus menjadi kekuatan permanen. Setelah water bombing, tim darat harus langsung masuk melakukan pendinginan sampai bara di lahan gambut benar-benar terkendali agar tidak menyala lagi," papar Ivan.
BACA JUGA: Pemprov Jambi Perpanjang Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor hingga 29 Desember 2026
Guna memastikan seluruh operasi berjalan efektif dan tepat sasaran di tengah temuan 12.106 titik panas sepanjang tahun, DPRD Provinsi Jambi mendesak pemerintah untuk menerapkan sistem satu pintu yakni 'One Map, One Data, One Command'. Melalui sistem ini, Ivan memastikan penempatan alat berat dan personel tidak akan dibagi rata secara buta, melainkan difokuskan secara presisi pada wilayah dengan tingkat risiko paling tinggi.
Dari sisi pengawasan, pihak legislatif juga berjanji tidak akan lagi sekadar menilai serapan anggaran atau pembelian alat, melainkan menuntut hasil nyata di lapangan. "Tujuan akhirnya bukan seberapa banyak helikopter yang terbang atau banyaknya peralatan yang dibeli. Target akhirnya adalah api lebih cepat ditangani, luasan terbakar terkendali, kualitas udara membaik, dan yang terpenting, masyarakat kita terlindungi," pungkasnya. (aan)
