JAMBIUPDATE.CO, MUARO JAMBI-Kekeringan mulai memukul sentra pertanian Kabupaten Muaro Jambi. Berdasarkan data yang dilansir dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Muaro Jambi, sebanyak 2.089 hektare sawah terdampak kekeringan pada musim tanam Mei hingga Agustus 2026.Dari jumlah itu, lebih dari separuhnya atau 1.403 hektare mengalami kerusakan berat.Kepala DTPH Muaro Jambi, Evi Syahrul, mengatakan kerusakan sawah tersebar di enam Kecamatan. Kecamatan Kumpeh, menjadi wilayah dengan dampak terluas, yaitu mencapai 1.058 hektare.“Yang terdampak ini cukup luas. Dari 2.089 hektare, yang rusak berat mencapai 1.403 hektare. Kondisi ini menjadi perhatian kami karena menyangkut lahan produksi petani,” kata Evi, kemarin.Evi menyampaikan, setelah Kumpeh, luas sawah terdampak tercatat di Kecamatan Jaluko 363 hektare, Sekernan 251 hektare, Kumpeh Ulu 181 hektare, Taman Rajo 167 hektare, dan Maro Sebo 70 hektare.Menurut Evi, tingkat kerusakan sawah terbagi dalam empat kategori. Sebanyak 402 hektare rusak ringan, 237 hektare rusak sedang, 1.403 hektare rusak berat, dan 46 hektare mengalami puso atau gagal panen.“Untuk yang puso ada 46 hektare. Ini berarti tanaman sudah tidak bisa diselamatkan dan petani mengalami kehilangan hasil,” sampainya.Evi menjelaskan, dampak kekeringan belum mencakup seluruh lahan yang berada dalam ancaman. DTPH, kata dia, memperkirakan 3.339 hektare lahan pertanian berpotensi mengalami kekeringan dari total 4.498 hektare luas tanam pada periode Januari hingga Agustus.Dengan demikian, sambungnya,masih ada 1.250 hektare lahan yang sejauh ini belum terdampak. Evi menyebut, lahan tersebut umumnya berada di area cekungan atau lokasi yang masih memiliki ketersediaan air.“Lahan yang masih bertahan umumnya berada di area cekungan. Di sana kondisi air masih lebih memungkinkan sehingga tanamannya belum terdampak,” ujarnya.Menurut Evi,kemampuan penyelamatan lahan masih terbatas. DTPH hanya memiliki sarana irigasi pompa air permukaan di lima titik dan pompa air tanah di sembilan titik.Total kapasitas pompa tersebut, katanya, sekitar 140 hektare, atau hanya sekitar 4 persen dari luas lahan yang berpotensi terdampak.“Kalau dibandingkan dengan luas lahan yang berpotensi terdampak, kapasitas pompa kita memang masih terbatas. Sekitar 140 hektare yang bisa dilayani,” jelasnya.Ia mengatakan pompa yang tersedia akan diarahkan untuk membantu lahan yang paling membutuhkan pasokan air.“Kami akan maksimalkan sarana pompa yang ada. Prioritasnya tentu lahan yang masih bisa diselamatkan supaya tidak berkembang menjadi kerusakan yang lebih berat,” katanya.Evi mengatakan, kekeringan juga menyeret tanaman hortikultura. DTPH mencatat 171 hektare tanaman hortikultura terdampak, terutama cabai dan sayuran.Kecamatan Kumpeh menjadi daerah dengan dampak terbesar, yakni 144 hektare, disusul Jaluko 22 hektare dan Mestong 5 hektare.“Bukan hanya padi. Tanaman hortikultura juga terdampak, terutama cabai dan sayuran. Totalnya sekitar 171 hektare,” sampainya.
(wan)
