Oleh : Bram Aprianto
Jangan menghayal Jambi akan menjadi tujuan investasi hanya karena kita memiliki sumber daya alam yang melimpah. Para investor tidak hanya bertanya tentang potensi tambang, perkebunan, atau komoditas. Mereka akan bertanya jauh lebih mendasar:
“Pelabuhan internasional untuk kapal besar berlabuh, ada atau tidak di Jambi?”
Pertanyaan sederhana itu seharusnya menjadi bahan renungan serius bagi kita semua.
BACA JUGA: Gubernur Al Haris Berjibaku Padamkan Karhutla di Nipah Panjang Tanjabtim
Pertama: Infrastruktur Pelabuhan
Investasi membutuhkan konektivitas. Investor membutuhkan kepastian bahwa barang dan komoditas yang mereka produksi dapat dikirim secara cepat, efisien, dan kompetitif ke pasar nasional maupun internasional.
Kalau Jambi ingin menjadi daerah tujuan investasi, maka persoalan pelabuhan yang mampu melayani kapal (vessel) dan konektivitas perdagangan internasional tidak boleh terus berada di pinggir pembahasan.
Kita tidak boleh hanya bangga dengan kekayaan SDA, tetapi kemudian hasilnya justru keluar melalui daerah lain karena Jambi belum memiliki infrastruktur logistik yang memadai.
BACA JUGA: Pemkot Jambi Ajak Warga Gelar Shalat Istisqa, Ikhtiar Hadapi Kemarau dan Kekeringan
Kedua: Tol Jambi–Palembang, Ancaman atau Peluang?
Ini yang menurut saya sangat urgent untuk dibahas oleh seluruh masyarakat Jambi.
Ketika Tol Jambi–Palembang selesai dan perjalanan Jambi–Palembang menjadi hanya sekitar 2–3 jam, apa yang akan terjadi?
Kemungkinan besar mobilitas masyarakat Jambi menuju Palembang akan meningkat drastis.
Uang masyarakat Jambi bisa semakin banyak berputar di Palembang: belanja Lebaran, wisata, kuliner, hiburan, berbelanja otomotif, nongkrong, hingga sekadar mencari tempat untuk berswafoto.
Pertanyaannya kemudian:
Apakah Jambi memiliki daya tarik yang cukup kuat untuk membuat orang Palembang datang dan membelanjakan uangnya di Jambi?
BACA JUGA: Ditawarkan Rp163 Juta, Bangunan Eks SMPN 3 Kota Jambi Terjual Rp278 Juta
Jangan sampai jalan tol yang seharusnya menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi justru membuat Jambi menjadi pasar bagi Palembang, sementara Palembang menjadi pusat perputaran uang masyarakat Jambi.
Tol bukan hanya soal mempercepat perjalanan.
Tol juga mempercepat perputaran uang.
Dan kita harus memastikan uang itu berputar di Jambi, bukan justru semakin banyak mengalir keluar Jambi.
Ketiga: Jalan Layang Sitinjau Laut dan Arah Baru Logistik SDA
Jika jalan layang Sitinjau Laut selesai, akses dari wilayah Barat Jambi menuju Sumatera Barat akan semakin efektif dan efisien.
Potensi SDA dari wilayah Barat Jambi bisa saja lebih mudah diarahkan melalui jalur menuju Pelabuhan Teluk Bayur, untuk kemudian dimuat langsung ke vessel menuju pasar tujuan.
Di sisi lain, ketika Tol Jambi–Palembang terhubung dengan jaringan jalan menuju Pelabuhan Internasional Tanjung Carat, maka pilihan jalur logistik Jambi akan semakin beragam.
Ini adalah sebuah peluang besar.
Tetapi sekaligus menjadi pertanyaan besar:
Jambi akan menjadi pusat kegiatan ekonomi dan logistik, atau hanya menjadi daerah penghasil yang SDA-nya keluar melalui pintu daerah lain?
Sudah siapkah Jambi menghadapi Kemajuan Provinsi Tetangga Sumsel Dan Sumbar ?
Penulis adalah Aktivis pemerhati sosial
