Dukungan tersebut salah satunya datang dari PT Sari Aditya Loka (SAL) di Jambi, yang menjalankan pendampingan pendidikan bagi komunitas Orang Rimba melalui pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik sosial dan budaya mereka.
Hingga 2026, PT SAL telah mendukung lima anak Orang Rimba untuk menempuh pendidikan tinggi, terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan. Satu anak lainnya telah menyelesaikan pendidikan dan bergabung dalam kepolisian.
Desi dan Kurnia menjadi dua perempuan yang mendapat dukungan tersebut. Bagi keduanya, dukungan itu membantu mereka menjalani pendidikan jauh dari keluarga, termasuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kehidupan selama berada di perantauan.
Pendampingan pendidikan PT SAL juga dilakukan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Sepanjang 2025, sebanyak 421 anak Orang Rimba dari tujuh rombongan dan 14 sub-rombong mendapat akses pendidikan melalui 13 PKBM, dukungan 16 tenaga pengajar, serta beasiswa untuk jenjang PAUD hingga perguruan tinggi.
Bagi PT SAL, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dasar membaca dan menulis, tetapi juga membuka kesempatan bagi generasi muda Orang Rimba memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pilihan masa depan yang lebih luas. Pendekatan tersebut mempertimbangkan karakteristik sosial dan budaya masyarakat Orang Rimba agar akses pendidikan dapat berlanjut hingga jenjang yang lebih tinggi.
Desi dan Kurnia kini berada di tahap yang berbeda. Kurnia telah menyelesaikan pendidikan tingginya dan bersiap memasuki dunia kerja, sementara Desi masih melanjutkan perkuliahan dengan cita-cita menjadi pendidik dan kembali berkontribusi melalui pendidikan bagi anak-anak di komunitasnya.
Bagi keduanya, pendidikan bukan sekadar jalan menuju gelar. Dari kampung halaman ke ruang kuliah di Kota Jambi, perjalanan Desi dan Kurnia menunjukkan bahwa ketika akses pendidikan terbuka, anak perempuan Orang Rimba memiliki ruang yang lebih luas untuk menentukan masa depannya sendiri.(*)
