JAMBIUPDATE.CO, JAMBI – Memasuki musim kemarau saat ini, PT SAS dan group menyiapkan berbagai strategi untuk bisa menyelamatkan 750 hektar lahan gambut yang telah direhabilitasi perusahaan.
Kameswara Helly, Direktur PT SAS mengatakan, proses rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) Hutan Lindung Gambut Londrang di Desa Koto Kandis Kecamatan Dendang Kabupaten Tanjung Jabung Timur Jambi, telah mulai dilaksanakan PT SAS sejak Oktober 2025 lalu.
BACA JUGA: Korban Kebakaran Cempaka Putih, 14 Warga Mengungsi di Rumah Singgah Dinsos Kota Jambi
Luas lahan yang telah ditanami pohon kini telah mencapai 750 hektar. "Artinya ini bukan luasan yang sedikit, tanaman di dalamnya juga telah tumbuh dengan baik, kita sangat bekerja keras agar upaya memulihkan kerusakan gambut di lokasi ini, bisa berjalan dengan baik dan tidak terdampak Karhutla," ujarnya.
Sebagai pemegang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) di Provinsi Jambi, PT SAS berkomitmen dan bertanggung jawab menjalankan kewajibannya terhadap kawasan ini, dari rmenanami pohon sampai nanti pohon yang ada bisa memberi manfaat untuk pemulihan lahan dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar.
BACA JUGA: MTQ Kabupaten Bungo ke-53 Resmi Ditutup, Bathin II Babeko Raih Juara Umum
Selama kemarau ini, PT SAS dan group berkoordinas dengan Kementerian LH melalui BPDAS Batanghari, telah melakukan berbagai strategi agar tidak terjadi kebakaran di lokasi yang telah ditanami pohon.
Strategi Pertama yaitu memperbanyak embung atau sekat kanal. Embung dan sekat kanal diharapkan bisa menjaga ketersediaan air dan mencegah gambut menjadi terlalu kering.
"Sekat kanal juga ditargetkan bisa menahan aliran air di kanal, sehingga air tidak cepat keluar dari kawasan, harapannya gambut dapat dipertahankan agar tetap basah," lanjut Helly.
BACA JUGA: Gubernur Al Haris Tinjau Korban Kebakaran di Cempaka Putih, Pastikan Bantuan Segera Disalurkan
Yang tak kalah penting, PT SAS secara gencar juga telah melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak menyalakan api sembarangan di areal kering, baik sebelum kemarau hingga kini memasuki musim kemarau, baik di kawasan rehabilitasi perusahaan maupun di Hutan Lindung Gambut Londrang secara umum.
PT juga meningkatkan patroli deteksi dini dengan membentuk Kelompok Masyarakat Siaga Api untuk menjaga 750 hektar kawasan yang telah direhabilitasi. "Keterlibatan masyarakat dirasa sangat penting," lanjutnya.
Baru-baru ini, Direktur Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan, Dr. Muchamad Saparis Soedarjanto telah mengunjungi kawasan DAS yang direhabilitasi PT SAS.
Dalam kunjungan ini, Saparis Soedarjanto memberi apresiasi dan pujian untuk PT SAS dan group atas komitmen dan tanggung jawabnya sebagai pemegang IPPKH.
Saparis melihat langsung progres penanaman yang signifikan dan menggembirakan di kawasan DAS yang menjadi tanggung jawab PT SAS dan group.
Sejak mulai dilakukan seremonial penanaman perdana pada Oktober 2025 lalu. Perusahaan telah konsisten melanjutkan penanaman secara teratur dengan melibatkan tenaga profesional dan juga masyarakat sekitar.
“Kita telah melihat langsung ke sini, progresnya sangat signifikan, telah direhabilitasi seluas 750 hektar dalam waktu lima bulan ini dan ini akan terus berlanjut,” ujar Saparis Soedarjanto.
Adapun luas lahan yang telah disepakati PT SAS dan group untuk direhabilitasi secara bertahap adalah seluas 2.018 hektar. Luas yang direhabilitasi ini sebenarnya melebihi dari kewajiban perusahaan, namun melihat kawasan DAS yang rusak parah di Hutan Gambut Londrang akibat kebakaran beberapa tahun silam, membuat perusahaan akhirnya menyetujui menambah areal hutan yang akan direhabilitasi.
Telah dalam pembahasan juga, terkait rencana PT SAS dan grup bersama Kemnhut RI melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) melakukan kolaborasi dalam menggerakkan masyarakat sekitar dalam produksi minyak Astiri dari hasil penyulingan tanaman kayu putih.
Pohon kayu putih menjadi salah satu jenis tanaman yang ikut ditanam di kawasan ini, selain jenis tanaman kayu-kayuan seperti jelutung rawa, pulai rawa. Juga ditanam tanaman hasil hutan bukan kayu lainnya seperti aren, jengkol, petai, pinang, lengkeng dan lainnya.
Total PT SAS dan group akan menanam sekitar 1,4 juta bibit tanaman untuk hutan lindung dan sebagian tanaman itu ada yang bisa pula dimanfaatkan hasilnya oleh masyarakat sekitar. Targetnya hutan bisa pulih kembali dari kerusakan, bermanfaat bagi kehidupan masyarakat sekitar, serta menyelamatkan kembali habitat flora dan fauna yang ada di dalamnya. (*)
