iklan Paling Banyak Dari Dharmasraya, Keterisian Penumpang Batik Air di Bandara Muara Bungo 80 Persen
Paling Banyak Dari Dharmasraya, Keterisian Penumpang Batik Air di Bandara Muara Bungo 80 Persen

JAMBIUPDATE.CO, MUARA BUNGO - Bandara Muara Bungo belakangan cukup sibuk melayani penumpang baik yang datang maupun pergi, pasca beroperasionalnya Maskapai Batik Air sejak 15 Juni 2026 lalu.

Bahkan menurut catatan dari pihak Bandara Muara Bungo, sudah lebih dari 2.000 penumpang yang menggunakan jasa maskapai Batik Air. Itu belum termasuk penumpang maskapai Nam Air yang sudah bertahun-tahun beroperasi.

Kepala Bandara Muara Bungo, Sony Aditya Pratama kepada Jambi Ekspres mengatakan, kehadiran Batik Air di Bandara Muara Bungo membawa dampak yang cukup signifikan dari jumlah pengguna jasa angkutan udara di bandara Muara Bungo.

"Alhamdulillah, kita perhitungkan sejak efektifnya Batik Air melayani penerbangan di Bandara Muara Bungo dari 15 Juni 2026 lalu jumlah penumpang semakin meningkat," ungkap Sony Aditya Pratama per telepon, Selasa (7/7/2026).

"Khusus Batik Air saja kita hitung sekitar dua minggu saja penumpangnya sudah mencapai dua ribu lebih. Dan itu juga beriringan dengan Nam Air," paparnya.

Bahkan jika dirata-ratakan tingkat ketirisian kursi penumpang Batik Air baik dari Jakarta ke Muara Bungo maupun sebaliknya mencapai angka 80 persen. 

Katanya lagi, peningkatan jumlah penumpang di Bandara Muara Bungo ini tidak terlepas dari meningkatnya kepercayaan masyarakat akan kepastian penerbangan dari Bandara Muara Bungo setelah maskapai Batik Air melayani penerbangan.

"Dengan Batik Air juga melayani perbangan di Bandara Muara Bungo ini masyarakat makin percaya kepastian keberangkatan karena sudah dua maskapai yang melayani penerbangan setiap harinya," paparnya.

"Disamping itu juga pastinya karena adanya persaingan harga tiket," tambahnya pula.

Lanjut Sony, sokongan jumlah penumpang dari daerah tetangga Bungo sangat berpengaruh. Yang mengejutkan penumpang asal kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat menjadi yang lebih banyak dibanding tetangga Bungo lainnya.

"Terbanyak memang asal kabupaten Bungo. Setelah itu Dharmasraya (Sumbar), kemudian Tebo, lalu Merangin, Sarolangun baru Kerinci dan Sungai Penuh," pungkasnya. (aes)


Berita Terkait



add images