iklan

JAMBIUPDATE.CO, PALEMBANG - Menjelang berakhirnya tahun 2022, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengadakan kegiatan kunjungan manajemen SKK Migas dan persiapan fifting akhir Tahun 2022.

Pada kegiatan kunjungan kerja di Wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto didampingi Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Benny Lubiantara, Kepala SKK Migas Perwakilan Sumbagsel Anggono Mahendrawan, Kadiv Operasi Produksi Bambang Prayoga, Plt Kadiv Program dan Komunikasi SKK Migas Mohammad Kemal beserta jajaran SKK Migas terkait.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama 3 (tiga) hari mulai 27 hingga 29 Desember 2023 Kepala SKK Migas dan rombongan diagendakan untuk dapat melihat proses monitoring kegiatan operasi dan produksi KKKS di wilayah Sumbagsel yang sudah terintegrasi dengan integrated operation center (IOC) SKK Migas Pusat dilanjutkan dengan melihat hasil-hasil mitra binaan dalam program pengembangan masyarakat (PPM) yang dilakukan oleh KKKS di Sumbagsel.

Dalam kunjungan tersebut Kepala SKK Migas melakukan diskusi dengan pimpinan KKKS di Sumbagsel terkait kinerja capaian 2022 dan rencanan program 2023. Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Pertamina refinery unit (RU) III Plaju yang mengolah minyak mentah hasil produksi KKKS di Sumbagsel, serta kegiatan pengeboran sumur Lokasi SAS-1 ST KKKS Sele Raya Belida. 

“Kegiatan selama 3 (tiga) hari ini merupakan salah satu upaya Industri Hulu Migas untuk melihat kesiapan di Lapangan dalam mencapai amanah Pemerintah, yaitu untuk Jangka Pendek berupa produksi 660 ribu BOPD minyak dan 6160 MMSCFD gas di tahun 2023, dan menyelaraskan dengan target jangka panjang 1 juta BOPD dan 12 ribu MMSCFD di tahun 2030”, kata Dwi dalam arahan diskusi dengan pimpinan KKKS seluruh Sumbagsel (27/12).

Dwi menambahkan kedua target ini merupakan target yang cukup menantang dan memerlukan langkah-langkah yang tidak biasa untuk mencapainya. Karena itu, kunjungan ini juga untuk mendengarkan aspirasi dari Kondisi di Lapangan terkait dukungan apa yang diperlukan dari SKK Migas.

“Kontribusi KKKS Sumbagsel terhadap produksi Nasional yang cukup significant, yaitu sebesar 69 ribu BOPD atau 7% (untuk minyak dan kondensat) dan sebesar 1.827 MMSCFD atau 28% (untuk gas)” ujar Dwi.

Dwi menegaskan bahwa SKK Migas sebagai wakil Pemerintah bertugas untuk membantu apa yang bisa dilakukan agar bisa membantu KKKS dalam melaksanakan kegiatan yang massif dan agresif dalam rangka menjaga dan meningkatkan produksi migas nasional. Dwi menambahkan Pemerintah telah menetapkan target incline setelah dalam jangka panjang mengalami decline. 

Dwi mengkhawatirkan khususnya pada produk minyak yang banyak impor yang jika jika terus terjadi dan meningkat akan semakin membebani negara. “Sering kali ada temuan migas, tetapi waktu untuk membuat proyek bisa onstream butuh waktu yang lama. Sesuai arahan Presiden harus melakukan business not ussual, hal ini nampak dari kehadiran negara yang telah banyak memberikan insentif2 agar keekonomian lapangan dapat dipastikan.


Berita Terkait



add images