iklan

Meski demikian, ia mengaku tetap berkomunikasi dengan pemerintah pusat dan melaporkan situasi terkini sektor pariwisata di Bali.

“Untuk saat ini kami masih ikut petunjuk pusat, karena perlu pertimbangan menyeluruh,” tegasnya.

Sebagai informasi saja, beberapa aturan yang dibuat pemerintah, disebut sebagai penyebab dari belum masuknya wisman ke Bali. Kebijakan karantina selama 5 hari misalnya, hal itu telah membuat Bali kalah bersaing dengan destinasi lain seperti Thailand yang mengumumkan bahwa mereka akan menerima turis yang divaksinasi penuh dari 46 negara tanpa karantina mulai 1 November.

Karantina juga disebut menyebabkan pengeluaran wisman menjadi tinggi. Disisi lain, Indonesia saat ini tak lagi mengeluarkan visa gratis bagi wisman. Sebagai gantinya, wisman harus membayar di muka untuk visa yang sedikitnya menelan biaya USD65 atau lebih dan memerlukan proses aplikasi yang rumit.

Hambatan lainnya adalah adalah peraturan yang melarang anak di bawah 12 tahun masuk ke Bali karena tidak bisa divaksinasi. Meski aturan itu akan dicabut pada hari Minggu.

Sementara itu wisman yang datang dari 19 negara, termasuk China, India, dan Jepang, harus tiba dengan penerbangan langsung dari negara asalnya. Tetapi sebagian besar negara dalam daftar, terutama di Eropa Barat, tidak menyediakan penerbangan langsung ke Bali.

Di antara yang terdaftar (dibolehkan masuk) adalah negara kecil di Eropa, Liechtenstein, dengan populasi hanya 38.000. Namun Indonesia mengecualikan Australia yang posisinya lebih dekat, padahal pelancongnya selalu mendominasi kedatangan ke Bali. (git/fin)


Sumber: www.fin.co.id

Berita Terkait



add images