iklan Ihsan Yunus, Anggota Komisi VI DPR RI, Dapil Jambi.
Ihsan Yunus, Anggota Komisi VI DPR RI, Dapil Jambi.

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI- Tren harga yang merosot masih dialami komoditas karet. Tercatat memasuki bulan September 2018, harga karet ada di level US$ 1,31 per kilogram dibandingkan di bulan Agustus sebesar US$ 1,34 per kilogram.

Melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sendiri dianggap hanya akan menguntungkan eksportir namun tidak bagi petani yang masih menerima harga rendah.

Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo), seperti diutarakan oleh Ketua Gapkindo Sumatera Selatan, Alex K. Eddy, menilai rendahnya harga karet di tingkat petani masih disebabkan penentuan harga di pasar internasional yang rendah. Harga karet di tingkat petani sendiri adalah 50-60% dari harga karet luar negeri.

Penyebab harga karet kita masih murah bahkan merosot karena pembentukan harga luar negeri, belum lagi ada faktor masih tidak meratanya keberadaan pasar lelang. Petani yang jauh dari lokasi pasar lelang terpaksa menjual hasil kebunnya kepada pengepul, ujar Alex.

Gapkindo sendiri berharap harga akan bergerak naik ke angka US$ 1,8 hingga US$ 2 per kilogramnya. Harga tersebut diharapkan akan membuat petani mendapatkan harga yang layak.

Dimintai tanggapannya, Ihsan Yunus, Anggota Komisi VI DPR RI, Dapil Jambi, mengatakan bahwa dia akan fokus untuk mencari akar persoalan dan solusi untuk rendahnya harga karet terutama di Jambi.

Di Jambi, karet dan sawit itu adalah penyumbang utama perekonomian provinsi. Data menunjukkan ekonomi Jambi tumbuh lebih dari 4% pada triwulan-II 2018 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut didominasi industri makanan berbasis kelapa sawit serta industri karet, ujar Ihsan.

Ihsan mengatakan akan menjadikan persoalan rendahnya harga karet, terutama di Jambi, yang dikeluhkan di Jambi menjadi fokusnya. Beberapa mitra kami di Komisi VI DPR memiliki kaitan dengan permasalahan karet ini. Kami tentu akan meminta penjelasan dari Menteri Perdagangan misalnya untuk meminta penjelasan soal faktor-faktor pembentukan harga karet di pasar nasional yang ditemukan pemerintah. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga akan kami mintai pendapatnya bahkan hasil investigasinya perihal harga karet ini karena bisa saja pembentukan harga dilakukan oleh kartel pengepul sehingga petani dirugikan, tambah Ihsan.

Selain upaya untuk mempengaruhi kebijakan di pusat, Ihsan juga mencatat upaya-upayanya yang langsung menyentuh kepentingan Dapilnya, Jambi. Alhamdulillah bulan lalu saya pribadi berhasil mengadvokasi program replanting karet ke sawit untuk petani di Desa Guruh Baru, Sarolangun dan di Desa Terentang Baru, Batanghari, Jambi. Sudah ditandatangani Nota Kesepahaman antara PTPN VI dan koperasi-koperasi petani. Selain itu, sebelumnya, di tahun 2015, pernah kami arahkan program IKM (Industri Kecil Menengah) dalam rangka pengadaan mesin industri karet di Desa Muhajirin, Kecamatan Jaluko, Kabupaten Muaro Jambi di tahun 2015, tukasnya.(aiz)


Berita Terkait