iklan Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI  Menguatnya dolar akan berdampak pada harga pangan di Indonesia, khususnya Provinsi Jambi. Terutama pada tempe dan tahu, karena kedelai yang merupakan bahan pokok pembutaan tahu dan tempe di impor dari Benua Amerika.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pangan Provinsi Jambi, M. Dianto saat dikonfirmasi awak media menyampaikan, untuk bahan pokok yang bisa diproduksi di Indonesia, tidak terjadi kenaiakan harga.

Telihat dari harga cabai, beras, bawang, masih stabil seperti harga semula, kata Dianto, kemarin (6/9).

Dianto mengungkapkan,yang sangat terlihat harga tahu dan tempe, karena  bahan baku kedelai untuk pembuatan tahu dan tempe merupakan bahanimpor dari benua Amerika.

Masyakat suka bahan pangan yang murah seperti tahun dan tempe. Namun, denganmenguatnya dolar, harga kedelai juga akan naik. Bahan baku tahu tempe itu impor dari BenuaAmerika, katanya.

Ketika ditanya potensi kedelai tanah air, khususnya di Jambi, Dianto menyebutkan, jenis kedelai lokal berbeda dengan kedelai impor. Untuk membuat tahu dan tempe, tidak bisa menggunakan kedelai lokal. Sebab, proses pemuaian kedelai lokal untuk tahu tempe, tidak maksimal seperti kedelai impor.

Mudah-mudahan ada kebijakan pemerintah pusat. Karena kami Satgas Pangan di Jambi tidak bisa membuat kebijakan. Skalanya ini sudah dunia, bukan skala Provinsi Jambi lagi persoalan ini. Kita berharap, pemerintah bisa mengurangi impor, dan memperbanyak ekspor, sebutnya

Saat ini untuk harga tahu dan tempe di pasar tradisonal Jambi masih tergolong normal. Tempe batangan masih dihargai Rp 5000 per batang, dan tahu Rp 500 per butir. (aba)

 


Berita Terkait