iklan Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.

Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.

Guru Besar Ekonomi / Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi

Kota Jambi tumbuh di tepian Batanghari, sungai panjang yang selama berabad-abad menjadi jalur peradaban, perdagangan, dan perjumpaan manusia. Dari sungai inilah komoditas pedalaman dahulu bergerak menuju pasar yang lebih luas, sementara permukiman berkembang menjadi pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi.

Kini denyut kota tidak hanya terdengar di tepian sungai, tetapi juga di pasar, pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit, perkantoran, dan jalan yang semakin padat. Sebagai ibu kota provinsi, Kota Jambi menanggung tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mengurus penduduknya sendiri. Kota ini harus menjadi pusat pertumbuhan yang mampu menggerakkan wilayah sekitar dan menghadirkan kesejahteraan yang semakin merata.

BACA JUGA: Danrem 042/Gapu Pimpin Rakor Karhutla di Tebo, Habitat Gajah Jadi Perhatian Utama

Kemajuan Kota Jambi tidak cukup digambarkan melalui pertambahan bangunan, kendaraan, hotel, restoran, atau pusat perdagangan. Kemajuan harus terlihat pada pelayanan yang mudah, lingkungan yang bersih, transportasi yang tertata, keamanan yang terjaga, dan pekerjaan yang memberikan penghasilan layak. Kota yang ramai belum tentu menjadi kota yang sejahtera apabila kemacetan, banjir, sampah, ketimpangan, dan biaya hidup terus menekan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi harus berjalan searah dengan peningkatan kualitas hidup, perlindungan lingkungan, dan pemerataan ruang perkotaan. Masa depan Kota Jambi ditentukan oleh kemampuannya mengubah keramaian menjadi produktivitas dan transaksi ekonomi menjadi kesejahteraan.

BACA JUGA: Motif Kematian Brigadir EWS Mulai Terungkap, Polda Jambi Sebut Perselisihan Masalah Pribadi

Kota Jambi merupakan pusat ekonomi terbesar di Provinsi Jambi dengan basis utama perdagangan dan berbagai kegiatan jasa. Publikasi PDRB Kota Jambi Menurut Lapangan Usaha 2021–2025 memperlihatkan kuatnya peran perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, transportasi, pendidikan, kesehatan, keuangan, serta jasa pemerintahan. Pemerintah Kota Jambi, dengan merujuk data BPS, menyebut ekonomi daerah tumbuh sekitar 4,75 persen pada 2025. Laju tersebut menunjukkan ekonomi tetap bergerak, tetapi lebih rendah daripada pertumbuhan 4,98 persen pada 2024 dan 6,18 persen pada 2023.

Perlambatan ini menjadi isyarat bahwa ekonomi kota memerlukan mesin pertumbuhan baru yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Struktur ekonomi Kota Jambi mencerminkan fungsinya sebagai tempat bertemunya produsen, pedagang, konsumen, pemerintah, dan penyedia layanan dari seluruh wilayah provinsi. Hasil perkebunan, pertanian, perikanan, dan pertambangan dari kabupaten sekitar banyak diperdagangkan, dibiayai, diangkut, serta dikendalikan melalui kota ini.

BACA JUGA: Polda Jambi Peringati Haornas ke-43, Wakapolda Ajak Personel Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Gaya Hidup

Namun, Kota Jambi belum boleh puas hanya menjadi tempat transaksi dan konsumsi karena nilai tambah yang lebih besar lahir dari pengolahan, inovasi, desain, dan penguasaan pasar. Industri makanan, rumah kemasan, pusat distribusi, teknologi perdagangan, jasa profesional, serta ekonomi kreatif perlu berkembang lebih cepat. Kota Jambi harus bergerak dari pusat perdagangan konvensional menjadi pusat pelayanan bisnis modern bagi seluruh Provinsi Jambi.

Hubungan ekonomi Kota Jambi dengan Muaro Jambi, Batanghari, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, dan kabupaten lainnya harus diperkuat sebagai satu ekosistem regional. Batas administratif tidak seharusnya memutus hubungan antara kawasan produksi, permukiman, pasar tenaga kerja, jaringan transportasi, dan pelayanan publik.

Pertumbuhan kawasan perumahan di luar batas kota, misalnya, tetap menambah arus kendaraan dan kebutuhan layanan di dalam Kota Jambi. Kerja sama antardaerah diperlukan dalam pengelolaan transportasi, sampah, air bersih, pangan, banjir, investasi, dan kawasan industri. Kota Jambi akan berkembang lebih sehat apabila kemajuannya dirancang bersama daerah penyangga, bukan berjalan sendirian di tengah perluasan kawasan perkotaan.


Berita Terkait



add images