JAMBIUPDATE.CO, JAMBI – Berhasil lulus dan meraih nilai 86 (A), Rendra pun berhak menyadang gelar Doktor Ilmu Pertanian dalam Ujina Promosi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Jambi, dengan mengangkat disertasi “Model Pengelolaan Sustainable Enterpreneurship pada Petani Kelapa Sawit Milenial di Provinsi Jambi”. Dalam Ujian Promosi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Jambi ini bertindak sebagai sebagai Ketua Sidang Prof. Dr. Dra. Muazza, M.Si, Sekretaris Prof. Dr. Ir. Zulkifli Alamsyah, M.Sc, Penguji Eksternal Prof. Dr. Rhidah Taqwa, M.Si, Penguji 1 Prof. Dr. H. Syamsurijal Tan, S.E.,M.A, Penguji 2 Dr. Yatno, S.PT.,M.Si, Penguji 3 Dr. Mirawati Yanita, S.P.,M.M, Promotor Prof. Dr. Ir. Suandi, M.Si, Co Promotor 1 Prof. Dr. Ir. Rosyani, M.Si, Co Promotor 2 Prof. Dr. H. Junaidi, S.E.,M.Si.
“Dewan Penguji bersepakat bahwa Promovendus lulus dengan nilai 86 (A), yang bersangkutan adalah lulusan kesepuluh pada Program studi Ilmu Pertanian Universitas Jambi, dan berhak mendapatkan gelar Doktor,” kata Ketua Sidang Prof. Dr. Dra. Muazza, M.Si kemarin (25/6).
BACA JUGA: Wako Alfin Semprot Pengelola Puskesmas Tanah Kampung, Kebersihan dan Disiplin Pegawai Disorot
Sementara Penguji 1, Prof. Dr. H. Syamsurijal Tan, S.E.,M.A mengatakan, konsep dari penelitian Promovendus adalah bagaimana pengembangan sawit untuk generasi milenial, terdapat 27 persen dari total petani sawit di Provinsi Jambi merupakan generasi milenial, namun bagaimana terjadi perubahan kepada keberlanjutan perkebunan sawit dilakukan dengan suistainable enterprenueship.
“Selama ini kan hanya menggunakan cara tradisional saja, padahal dibutuhkan inovasi berupa penggunaan teknologi media sosial dan digital seperti networking, kalau pertain sawit mau bersaing dipasar nasional dan internasional,” terang Prof. Dr. H. Syamsurijal Tan, S.E.,M.A.
BACA JUGA: Kota Sungai Penuh Resmi Kantongi Status Cagar Alam Geologi dari Kementerian ESDM
Inti penelitian yang dilakukan Promovendus adalah menemukan keberlanjutkan dari usaha sawit dengan melakukan suitainable entrepreneurship, bagaimana nantinya milenial dapat menggunakan inovasi untuk menekan efisiensi, yang menjadi variabel keberlanjutan.
“Kedepan diharapkan petani sawit milenial juga mendapat kebijakan dari Pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan,” tandasnya.
Rendra selaku Promovendus mengatakan, masalah keberlanjutan kelapa sawit adalah dengan penerapan ISPO sebagai tolak ukurnya, karena secara umum terdapat tiga penguasaan lahan sawit, pertama oleh perusahaan swasta, perusahaan Negara dan petani swadaya. Dari sisi petani swadaya pemilik sertifikat ISPO masih sangat sedikit yakni hanya 1 persen secara nasional.
BACA JUGA: Tanjabtim Usulkan 350 Formasi CPNS 2026, Kebutuhan Guru Masih Mendominasi
“Di Jambi petani swadaya yang tersertifikasi ISPO baru 8 kelompok KUD, sekarang kita ingin mendorong sertifikasi ISPO dipetani swadaya untuk keberlanjutan kelapa sawit, sehingga diperlukan suitainable entrepreneurship untuk mencapai tujuan keberlanjutan kelapa sawit dari sisi lingkungan dan kesejahteraan sosial,” urainya.
Dari penelitian yang dilakukannya apakah generasi milenial ini berkaitan dengan penggunaan media, dapat memanfaatkan suistainable ternyata tidak berjalan, sehingga diperlukan faktor mediasi yakni social capital dengan pelaku bisnis, formula ini pun diharapkan berdampak pada kebijakan Pemerintah.
“Langkah yang bisa dilakukan Pemerintah berupa penyuluhan kelompok petani swadaya sawit, pola pemberdayaan yang tepat, diharapkan ada penelitian terapan berikutnya, karena yang kami lakukan baru konsep dasarnya saja,” tandasnya.(*)
