JAMBIUPDATE.CO, SAROLANGUN - Satu bulan terakhir, Kabupaten Sarolangun dilanda musim kemarau. Akibatnya, banyak sumur warga yang kering, sehingga harus mencari air terdekat seperti sungai. Walaupun,kebanyakan aliran sungai di Kabupaten Sarolangun sudah tercemar karna aktifitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang marak di daerah itu. Salah satu contoh yakni di Desa Pulau Buayo, Kecamatan Bathin VIII.
Dimana masyarakat di Kecamatan Bathin VIII mengaku sudah mulai kesulitan pasokan air bersih untuk keperluan sehari-hari, sehingga untuk mengatasi kebutuhan tersebut mereka terpaksa menggunakan air sungai yang sudah banyak tercemar PETI dan keruh.
"Sumur yang merupakan sumber air bersih kami selama ini, yang berada di rumah warga rata-rata sudah mulai mengalami kekeringan. Terpaksa kami beralih ke air sungai," kata Oktavia, salah satu warga setempat.
Dikatakannya, bahwa situasi itu di alami mereka sudah sejak dua minggu terakhir, dimana air sumur mulai kering karena sudah masuk musim kemarau. "Hampir semua warga saat ini mengeluhkan dan kesulitan air bersih. Baik untuk memasak maupun kebutuhan lainnya,"akunya.
Lebih lanjut dikatakannya, meski sudah beralih ke sungai, kondisi air sungaipun sudah tak layak digunakan. Pasalnya air sungai selain sudah sedikit keruh juga sudah tercemar oleh aktifitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang lokasinya lumayan jauh dari pemukiman warga.
"Hampir semua masyarakat Desa Pulau Buayo sudah beralih ke air sungai, sementara sungai sudah keruh karna tercemar PETI," kesalnya.
Hal yang sama juga dikatakan, warga lainnya. Rayan, ia mengatakan dengan kondisi tersebut warga takut jika air tersebut digunakan terus menerus akan mengakibatkan sumber penyakit bagi masyarakat.
"Semoga secepatnya ada solusi dari Pemerintah daerah, apakah itu bantuan air bersih atau biaya penggalian sumur. Dan mudah-mudahan saja musim hujan segera datang agar sumur warga kembali terisi air,"pungkasnya. (hnd)
