JAMBIUPDATE.CO - Di Lancaster, Inggris, puasa dimulai sekitar pukul 2.30 dan baru berbuka pada 21.30 malam. Ini saban Ramadhan dilalui oleh Juwairiyyah, mahasiswa Jambi yang kini studi Master di Lancaster University, Inggris.
PIRMA SATRIA
You are not allowed to eat and drink for more than 18 hours in 30 days, it sounds like a torture (kamu tidak diperbolehkan makan dan minum selama 18 jam selama 30 hari, itu terdengar seperti sebuah siksaan).
Kalimat yang lain, That doesnt make any sense,why do you need to do that? (Itu tidak masuk akal, kenapa kamu harus melakukan itu?).
Inilah tantangan terberat yang dirasakan oleh Juwai (Sapaan akrab Juwairiyyah, red) ketika menjawab pertanyaan dari teman-temannya yang non-muslim tentang Ramadhan di Lancester, desa kecil yang terletak di bagian barat laut Inggris.
Itu hanya segilintir, masih banyak lagi pertanyaan lain yang harus disiapkan jawabannya oleh Juwai dengan baik agar tidak membuat mereka salah paham terhadap Islam yang di Lancaster menjadi agama minoritas.
Wajar saja pertanyaan itu muncul. Mereka tidak mengerti tentang konsep ibadah puasa, jelasnya.
Berpuasa di luar negeri, apa lagi dengan kultur yang sangat jauh berbeda, juga menjadi tantangan tersendiri bagi wanita kelahiran Jambi ini. Ditambah lagi dengan kesibukan menjalankan study plus menjadi seorang ibu muda dengan anak berusia 16 bulan, mutlak membuat Juwai bisa membagi waktu dengan apik.
Membagi waktu dan energi juga menjadi tantangan selanjutnya. Meskipun saya tidak berpuasa karena masih menyusui, tapi saya tetap harus membagi waktu untuk menyiapkan makanan berbuka dan sahur untuk suami plus makanan khusus untuk si bayi, jelasnya.

Kendati mempunyai seabrek kegiatan, Juwai masih ikut terlibat dalam sebuah proyek yang dipimpin oleh 2 professor di Lancaster University untuk membantu pengembangan inovasi bisnis pariwisata di salah satu taman nasional milik Inggris.
Ditambah lagi kenyataan bahwa saya sedang menyusun tugas akhir. Untuk menjalani itu semua, saya sangat beruntung bisa mendapat dukungan penuh dari suami, sebutnya.
Untuk urusan ibadah, katanya, biasanya mereka bergantian. Dirinya yang menjaga anak ketika suami sholat dan begitu sebaliknya.
Suami saya yang puasa sejak jam 2.30 pagi harus bisa menjaga energi agar tetap fit sampai jam 21.30 malam, jadi kami bergantian dalam menjaga anak apalagi sekarang hobinya adalah main kejar-kejaran, sebutnya.
Saat berbuka di meja makan, sebutnya, Si Bayi biasanya diamankan dengan diberi makanan dan mainan agar mau duduk tenang bersama saat menikmati hidangan berbuka. Namun saat sahur, kalau kebetulan si bayi bangun, terpaksa gantian begadang sampai subuh.
Kalo siangnya kami mulai kehilangan kewarasan, biasanya salah satu dari kami langsung berubah peran jadi psikiater dadakan, hehhe, candanya.
Berpuasa di Inggris saat musim panas seperti sekarang, sebutnya, menjadi cobaan tambahan untuk kaum akhwat. Kiri kanan, depan belakang dipenuhi dengan bule berbaju super seksi. Kalo tidak pintar-pintar menjaga hati, bisa-bisa pahala puasa tergerus.
Dengan kondisi puasa yang cukup panjang, sementara udaranya sangat kering, kita lebih gampang dehidrasi. Jadi selain harus pintar jaga hati, harus pintar juga jaga energi.
Biasanya suami saya ditargetin minum 8 gelas sejak jam 10 malem sampe jam 2 pagi, kembung ya kembung deh gapapa, biar siangnya ga lemes yaa, sebutnya.
Lalu, bagaimana dengan tempat berbuka puasa? Juwai mengakui secara jujur, untuk satu ini, dirinya bersama suami kangen semua tentang Jambi: jajan di pasar bedug, duduk di Ancol nunggu Azan Magrib, dengar suara azan dimana-mama, senandung Al-Auran dari masjid, buka puasa bersama orangtua, keluarga besar, dan teman-teman.
Alhamdulillah, di Lancaster masih ada komunitas muslim yang orangnya dari berbagai negara. Jadi ya ada saja acara buka puasa bersama, seperti di mushola kampus, sebutnya.
Soal takjil, di Lancascter juga ada takjil dan makanan berat yang bisa dimakan gratis sepuasnya, Menunya tidak jauh dari makanan Turki, Arab, atau India karena disini orang Indonesianya sedikit sekali. Tapi ya jangan harap dapet kolak pisang. Tapi ya lumayan, menunya masih ramah di lidah, dan ramah di kantong juga karena gratis, katanya.
Selain itu, tambahnya, teman-teman non-muslim juga sangat mendukung. Karena disini buka puasanya di atas jam 9 malam, mereka ada saja yang mengajak makan bersama malam-malam begitu. Benar lah kata imam SyafiI itu, Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan teman. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Ujarnya sambil mengutip pendapat ulama besar itu.
Bagaimana dengan jumlah mahasiswa Indoneseia di Lancaster? Menurut Juwai, disini orang Indonesianya sedikit sekali, paling-paling tidak sampai 50 orang seantero Lancaster, itu juga sudah termasuk muslim dan non-muslim, dosen, mahasiswa, dan staff kampus.
Jadi tidak ada fasilitas khusus bagi minoritas. Paling-paling nanti ada acara buka puasa bersama yang diadakan oleh PPI Lancaster atau acara ngumpul kecil-kecilan gitu, jawabnya.
Juwai juga sempat menceritakan awal mulanya ia menempuh pendidikan di Inggris. Menurutnya, ia berangkat ke Inggris September 2017 lalu untuk menempuh studi master jurusan E-Business and Innovation Management di Lancaster University.
Juwai sama sekali tidak pernah menyangka bisa kuliah sampai S2 apalagi sampai ke luar negeri yang biaya pendidikan dan biaya hidupny bisa nyaris 1 milyar.
Menurutnya, bapaknya yang tidak lulus SD dan ibu yang hanya lulusan SMA, menghidupi dia dan dua adiknya dengan membuka sebuah toko klontong, sangat jauh dari kata mapan untuk bisa kuliah ke luar negeri.
Oleh karena itu, momen yang paling berkesan bagi saya adalah momen hari pertama saya kuliah, ada hati yang berbisik Iya, ini kenyataan, bukan mimpi. Doa dan keringat dari orangtua yang bersusah-payah setiap hari mencari uang di sudut kota Jambi itu akhirnya berhasil mengantarmu kesini, ke Inggris, sebutnya.
Tahun 2009, dari Jambi ia mulai merantau untuk kuliah S1 di Jakarta dengan beasiswa penuh dari Bakrie Foundation dan sempat bekerja 3 tahun di Jakarta. Lalu mendapat beasiswa penuh dari LPDP untuk kuliah di Inggris.
Tempat tinggalnya di Inggris adalah di Lancaster. Sangat berbeda dengan London yang dipenuhi gedung pencakar langit, Lancaster dihiasi hijaunya padang rumput luas dan pepohonan rimbun. Domba, kambing, sapi, kuda, adalah pemandangan yang sehari-hari terlihat karena Lancaster University berada di sekitar wilayah peternakan.
Cuitan burung-burung liar juga menjadi playlist setiap pagi lengkap dengan teriakan burung gagak yang berebut makanan. Benar-benar tempat yang sangat ideal untuk serius mencari ilmu, jelasnya.
Lalu, bagaiamana setelah tamat nanti? Juwai mengatakan, latar belakang akademiknya adalah manajemen bisnis dengan pengalaman hampir 3 tahun bekerja sebagai Planning Manager di salah satu perusahaan asing di Jakarta. Mudah-mudahan ilmu dan pengalaman ini nanti bisa dipakai untuk membantu UKM di Indonesia dalam mengembangkan inovasi bisnis, khususnya UKM pengrajin batik di Jambi.
Saya melihat batik Indonesia semakin menjadi sorotan pasar internasional, apalagi sejak dipakai oleh orang besar seperti Barack obama, Bill Gates, Nelson Mandela, dan Vladimir Putin. Lebih lagi, batik sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia sejak tahun 2009 lalu, sebutnya.
Pasar-pasar di Inggris pun, katanya, banyak memajang pakaian dengan motif yang sangat mirip batik. Bahkan dosen di Lancaster University sendiri pernah mengajar dengan memakai kemeja batik walaupun ternyata beliau tidak sadar bahwa itu adalah batik.
Salah satu teknologi yang bisa digunakan adalah Artificial Intelligence untuk membuat aplikasi yang bisa mengenali pola batik. Singkatnya, katanya, ktia bisa menggunakan aplikasi di handphone untuk memotret sebuah batik, lalu muncul nama batiknya, asal daerah batik tersebut.
Makna filosofinya, siapa pengrajinnya, dan bisa sekaligus membeli batik tersebut di online marketplace pada aplikasi tersebut.
Dengan bantuan inovasi berbasis teknologi seperti ini, pemerintah bisa mendokumentasikan dan mengedukasi masyarakat terkait motif batik yang jumlahnya mungkin ribuan (Provinsi Jambi saja setahu saya punya lebih dari 100 motif batik khas Jambi), katnaya.
Selain itu, jika ditambah dengan fitur online marketplace, aplikasi tersebut bisa membantu pengrajin batik untuk menjual produknya ke pasar nasional dan internasional. (*)
