iklan Danau Sipin.
Danau Sipin.

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI - Tidak banyak kota-kota besar di Indonesia yang memiliki potensi alam danau di pusat kotanya. Namun, Kota Jambi termasuk salah satu kota yang beruntung karena memiliki hal tersebut. Oleh karenanya potensi besar itu pun tak disia-siakan dan terus di optimalkan Pemerintah Kota Jambi dengan sebaik-baiknya.

Pembangunan kawasan Danau Sipin diawali dengan kesuksesan Pemkot bersama TNI / Polri memutus peredaran narkoba diwilayah itu. Tidak hanya berhenti disitu, Pemkot kemudian gencar membangun berbagai infrastruktur, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, jogging track hingga Jembatan Pelangi dan Rumah Tenun. Selain itu Pemkot juga berencana membangun Rumah Batik dan menggelar event lomba dayung bertaraf nasional dikawasan yang diyakini akan menjadi salah satu objek wisata andalan Tanah Pilih Pusako Batuah itu.

Pembangunan besar-besaran di wilayah itu, yang dimulai sejak awal kepemimpinan Wali Kota Jambi non aktif Syarif Fasha itu, kini mulai menampakkan hasilnya. Apresiasi pun terus bermunculan.

Setidaknya seperti yang dikatakan Hevriansyah, Ketua RT 24 Kelurahan Legok Kecamatan Danau Sipin. Menurutnya, daerahnya dulu dikenal sebagai kampung narkoba, sehingga banyak masyarakat luar yang takut masuk ke wilayahnya. Hal tersebut sangat menyulitkan ekonomi masyarakat, karena banyak pelaku usaha yang enggan menerima orang Legok dan Pulau Pandan untuk bekerja. 

Menurutnya, hal tersebut sekarang sudah perlahan-lahan luntur. Banyak masyarakat dari luar yang saat ini tidak takut lagi memasuki kawasan Danau Sipin yang sebentar lagi menjadi ikon wisata Kota Jambi itu.

"Pembangunan kini sangat pesat, terutama infrastruktur jalan. Jalan kami hingga ke lorong lorong saat ini sudah di cor semua," kata Hevriansyah, Minggu, (6/5).

Selain itu perkampungan masyarakat juga mulai ditata. Para pemuda yang dulunya sebagai pecandu narkoba kini mulai sadar dan hidup sehat, banyak diantara mereka saat ini menggeluti olahraga dayung. Bahkan setiap harinya banyak orang dari luar Danau Sipin yang mancing di danau tersebut.

"Saya katakan pemakai dan penjual (narkoba) turun drastis bahkan hingga 90 persen. Sehingga kami tidak takut lagi anak-anak kami, generasi muda terpengaruh," katanya.

Menurutnya, pembangunan fisik yang gencar itu dilakukan sejak 4 tahun lalu. Bahkan yang terbaru pemerintah berencana akan mengembangkan Danau Sipin sebagai destinasi wisata unggulan. Dirinya sebagai warga asli sangat mendukung langkah pemerintah tersebut.

Selain itu, menurutnya warga setempat juga aktif memanfaatkan Rumah Tenun yang dibangun Pemkot setahun lalu sebagai sentra ekonomi kreatif yang berdampak pada ekonomi masyarakat.

"Di Legok ada 10 RT, dan tiap RT itu mengirimkan 5 perwakilan untuk dilatih membatik dan menenun. Sehingga nanti dapat menularkan ilmunya kepada yang lain," terangnya.

Hevriansyah menambahkan, sebagian besar masyarakat Danau Sipin berprofesi sebagai pedagang di Angsoduo, buruh bangunan dan juga petani ikan. Rencana Danau Sipin akan dijadikan destinasi wisata unggulan diharapkan berdampak positif pada kehidupan masyarakat terutama bagi petani ikan. Sebab ada sekitar 1.200 lebih keramba ikan yang di danau tersebut. Jika dikelola dengan baik, maka akan menarik wisatawan.

Menurutnya, dari 10.000 bibit yang disebar dapat menghasilkan 1,2 ton ikan tiap kali panen. Sehingga potensi ini dapat menyokong rencana pengembangan Danau Sipin sebagai wisata unggulan.

"Kami ucapkan terima kasih dan sangat mendukung sepenuhnya rencana itu, dan kami bangga menjadi warga Danau Sipin," ucapnya.

Sementara itu, warga lainnya yang merasakan dampak pembangunan adalah Tina, yang merupakan Ketua Kelompok Batik Sipin Jajaran. Dengan membatik dirinya dapat membantu ekonomi di keluarganya. Sebab, suaminya berprofesi sebagai petani ikan (nelayan). Setiap harinya, ibu tiga anak ini membatik di Rumah Tenun itu bersama rekan-rekannya. 

"Kelompok kami terbentuk dari tahun 2002, beranggotakan 20 orang," katanya.

Menurut Tina,  dalam satu bulan kelompok batiknya dapat menghasilkan 30 lembar kain. Tiap meternya, kain batiknya dapat dihargai Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta tergantung motif dan bahan yang digunakan.

"Yang menjadi pembeda adalah batik dari Danau Sipin ini tidak menggunakan pewarna kimia, kami menggunakan pewarna alami seperti kulit jengkol, kulit manggis dan lainnya," katanya.

Selain membatik, kelompoknya juga dapat menenenun kain. Hasil kain tenun nya tiap meternya dihargai Rp2,5 juta hingga Rp 5 juta.  

Kata Tina, dirinya sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kota Jambi karena telah dibangunkan Rumah Tenun di kampungnya. Bahkan Pemkot juga bekerjasama dengan Pertamina, dan beberapa instansi lainnya untuk pemasaran produk mereka.

"Kami punya misi go internasional, kami berencana rumah batik itu nantinya akan kami jadikan gallery untuk produk kerajinan kami, seperti batik, tenun dan makanan khas Danau Sipin," katanya

"Kami sangat berterima kasih atas perhatian pemerintah, sebab wacana pengembangan kawasan Danau Sipin menjadi wisata unggulan sudah muncul sejak saya lahir, tapi baru sekarang terealisasi," tambahnya.

Sementara itu warga yang setiap harinya menyewakan ketek untuk menyeberang masyarakat Seberang Sofyan, (68) mengatakan bahwa jika ingin dijadikan destinasi wisata dirinya berharap pemerintah dapat membantu perahu hias, sehingga dapat menarik wisatawan.

Dirinya mengatakan sudah 10 tahun menggeluti profesi sebagai penarik ketek untuk menyebrang masyarakat. Setiap harinya dirinya dapat memperoleh nilai tambah sebesar Rp50 ribu dari profesinya itu. "Di sini ada 8 orang yang setiap hari membantu menyeberang masyarakat, warga hanya dikenakan biaya Rp3 ribu setiap kali menyeberang," katanya.

"Kalau pakai perahu biasa orang tidak mau naik, jadi kalau bisa dibantu perahu hias seperti bebek-bebekan," pungkasnya.

Sementara itu tokoh masyarakat setempat, Dr. Supian Ramli yang juga sebagai akademisi di Universitas Negeri Jambi, mengatakan secara fisik pembangunan di Danau Sipin sangat tampak jelas, yang paling menonjol adalah infrastruktur jalan. Di mana sebelumnya warga yang tinggal di Danau Sipin merasa terisolir. Hal itu dikarenakan infrastruktur jalan yang sangat jelek, apalagi kawasan tersebut merupakan kawasan yang rawan banjir.

"Dulu kalau banjir mau ke kota harus pakai ketek, karena jalan terendam banjir," katanya.

Namun saat ini, kondisi jalan sudah dicor hingga ke lorong-lorong. Sehingga dapat dilewati masyarakat meskipun dalam keadaan banjir.

"Dulu kalau banjir becek, kumuh, sekarang Alhmadulillah sudah bagus semua," katanya.

Selain jalan, pemerintah juga telah membangun jembatan yang dapat dilewati dua mobil sekaligus. Dahulu, jembatan tersebut sangat kecil sehingga menyulitkan masyarakat, yang kesehariannya memiliki mobiltitas yang tinggi karena berprofesi sebagai pedagang. "Dulu kalau mau melewati jalan itu harus antri karena jembatan nya kecil tapi sekarang sudah tidak lagi," jeladnya.

Ramli menambahkan, penataan Danau Sipin sebagai destinasi wisata unggulan juga sudah mulai terlihat seperti pembangunan bronjong di pinggir danau. Selain untuk memperindah, hal tersebut juga memberikan keamanan kepada masyarakat. Jika tidak di bronjong masyarakat yang tinggal di pinggiran danau tersebut khawatir akan longsor. 

"Sangat cocok jika dikembangkan sebagai destinasi wisata, tinggal sosialisasinya saja kepada masyarakat supaya mereka juga siap," katanya.

Menurut dosen Pendidikan Agama Islam ini, secara spiritual masyarakat disana juga sudah mulai meninggalkan kegiatan negatif. Dahulu Danau Sipin dikenal sebagai kampung narkoba. Namun perlahan-lahan image tersebut mulai luntur. Hal ini akibat perhatian pembangunan yang diberikan oleh pemerintah.

Ia menambahkan, faktor ekonomi yang menjadikan masyarakat disana berperilaku negatif seperti menjual dan memakai narkoba. Namun dengan adanya pembangunan dan program pemerintah berdampak pada pengembangan ekonomi masyarakat. Sehingga perlahan-lahan masyarakat mulai meninggalkan kegiatan negatif tersebut.

"Baru-baru ini kami juga melaksanakan MTQ tingkat kecamatan di Danau Sipin.  Selain itu kegiatan keagamaan lainnya juga sering kami laksanakan," katanya.

Kata dia, fasilitas ibadah di wilayahnya juga sangat memadai ada sebanyak 3 masjid dan 3 langgar yang sering digunakan masyarakat untuk beribadah, dan juga tempat anak-anak maupun generasi muda belajar ilmu agama seperti mengaji dan lainnya.

Seperti diketahui, pada tahun 2018 ini ada anggaran Rp30 miliar untuk melanjutkan pekerjaan Danau Sipin. Total dana Rp25 miliar bersumber dari BWSS VI untuk pembangunan bronjong dan Rp5 M dari APBD Pemerintah Kota Jambi untuk jogging track. Sebelumnya, pada tahap awal pembangunan tahun 2017 juga sudah dianggarkan sebesar Rp3,5 miliar untuk membangun jogging track sepanjang 486 meter.

Menurut Walikota Jambi non aktif, Syarif Fasha, dibutuhkan anggaran sebesar Rp150 miliar untuk merampungkan rencana pengembangan destinasi wisata Danau Sipin. Kata dia, tiga tahun kedepan ditargetkan Danau Sipin berubah total. Ditengah Danau Sipin nanti akan dibuat air mancur menari, ada perahu bebek dan jet sky. Selain itu akan dibangun jembatan gantung yang melintas Danau Sipin.(hfz)


Berita Terkait



add images