JAMBIUPDATE.CO, JAMBI-Masa kecil Sy Fasha memang jauh dari kemapanan. Selain ketidakmapanan secara ekonomi itu, Fasha kecil juga tinggal di kawasan keras Tembok Batu. Sebuah lingkungan yang secara sosial sangat tidak nyaman untuk tumbuh dan berkembangnya sebuah keluarga.
Disebut keras, memang kawasan tersebut gudangnya preman dan pelaku tindak kriminalitas. Makanya Tembok Batu disebut orang di Palembang sebagai kawasan Texas.
Memang itu sebutan minor untuk kampung Saya waktu kecil, dan itu tidak bisa kami tolak, ujar Fasha saat permbincangan dengan media ini.
Menurut Fasha, kebanyakan warga Tembok Batu bekerja sebagai pekerja kasar, dan anak-anak mudanya kebanyakan merantau secara berkelompok.
Memang di perantauan mereka kebanyakan menjadi bandit kelas berat, bukan kelas teri. Tapi kalau di kampung sendiri mereka tidak melakukan tindakan kriminal. Selain itu, warga Kampung Tembok Batu juga sering dipanggil sebagai Bodyguard atau centeng untuk pengusaha-pengusaha, kenang Fasha.
Saking kerasnya kawasan Tembok Batu, kata Fasha, dirinya waktu kelas SD pernah berduel dengan temannya sesama warga Tembok Batu selama dua hari berturut-turut.
Fasha menceritakan, nama anak itu Didi. Ia selalu menjadi pesaingnya di Tembok Batu dalam berbagai hal, termasuk olahraga. Karena Fasha sering kalah, akhirnya ia mengajak Didi duel satu lawan satu tapi bukan di Tembok Batu. Sesuai aturan, mereka pun memilih lokasi duel di depan mesjid Agung Palembang.
Selain itu, Didi juga sering memperolok Fasha sebagai keluarga miskin dan banyak hutang.
Kami duel dengan tangan kosong. Hari pertama Saya yang menang. Meskipun wajah dan tubuh luka dan lebam. Didi tidak mau menyerah, dia menantang lagi untuk duel hari kedua. Hasilnya, juga tidak berubah, dia masih kalah. Menariknya, setelah duel, kami bersama-sama pulang ke Tembok Batu menggunakan angkota yang sama, cerita Fasha sambil menahan tawa.
Paska duel itu, kata Fasha, dirinya memang sempat tidak berteguran dengan Didi selama sebulan, namun setelah itu akur kembali. Perdamaian itu dilakukan dengan cara salaman dan makan bersama di rumah Nenek Didi di dekat Mesjid Agung Palembang.
Sampai sekarang Didi masih tinggal di Palembang. Kapan ketemu dia, kami selalu bercerita duel masa kecil itu, pungkasnya. (pas)
