Tak ada yang mau hidup sendiri di sisa umur yang sudah 82 tahun. Apalagi dibawah garis kemiskinan dan bergelut dengan penyakit. Jangankan untuk berobat, makan saja susah. Ini yang dirasakan oleh Timah. Kondidi seperti ini harus menjadi perhatian pemerintah untuk membantunya.
AZUL SUMAYATI
SUAMI dan Anak-anknya sudah menghadap sang khalik. Timah tinggal seorang diri di sebuah gubuk di Desa terpencil di Kabupaten Bungo. Tepatnya di Dusun Sekampil, Kecamatan Pelepat. Timah sudah beberapa tahun ini tidak beraktifitas secara leluasa. Kakinya semakin lama semakin membengkak dan sakit akibat Kaki Gajah yang dideritanya.
Rasa sepi dan sunyi pun kerap dirasakannya. Anak dan suami yang dicintainya sudah meninggal karena sakit. Tak banyak barang di gubuk kecil itu. Gubuk itu masih berlantaikan tanah. Hanya ada satu dipan papan yang menjadi tempat tidur baginya, tanpa kasur.
Meski terbebani dengan kondisi fisiknya yang tak sehat, Timah senantiasa bersemangat.
Bahkan, pintu rumahnya senantiasa dibuka menyambut hangat tetangga maupun tamu yang ingin datang menjenguknya. Maklum, sejak suaminya meninggal, Dia hanya mengandalkan makan dari pemberian tetangga atau belas kasihan orang yang datang menjenguknya.
Itu pun tak setiap hari Timah mendapatkan makan dari belas kasihan orang lain. Ada kalanya tak ada sama sekali yang memberinya makan. Kalau tidak ada yang datang, ia pun terpaksa menahan lapar.
Tapi, Timah tak pantang menyerah. Ia sadari bahwa tak selalu Ia mengandalkan orang lain untuk bertahan hidup. Maka, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Timah mencari kayu bakar yang kemudian Ia jual untuk membeli makanan. Yang penting ado dikit yang nak dimakan, ungkapnya.
Di usianya yang menginjak 82 tahun, Timah sebenarnya merasa sangat sedih. Di rumah yang dia tumpangi sekarang, serasa begitu sepi. Ia pun terus berjuang hanya untuk sesuap nasi dan bertahan dari lapar. Meski pandangannya tak lagi seperti dulu, ia merasa senang masih banyak orang yang memperhatikannya.
Entah sampai kapan begini, jalani bae. Alhamdulillah tetanggo banyak yang peduli, lanjutnya.
Bantuan dari Pemerintah pun sempat ia dapatkan. Tapi, semua seakan tak merubah keadaannya. Ia hanya bisa berpasrah dengan keadaan. Sembari mengandalkan sisa tenaganya bergerak mencari secercah cahaya di balik gelap dan sunyinya ruang yang ditempatinya. (***)
