iklan LUMPUH : Saripudin yang terbaring di kasur didampingi istrinya yang dengan sabar merawatnya selama 14 tahun lumpuh.
LUMPUH : Saripudin yang terbaring di kasur didampingi istrinya yang dengan sabar merawatnya selama 14 tahun lumpuh.

JAMBIUPDATE.CO, BATANGHARI - Tidak ada yang tahu nasib dan takdir dari seorang, karena setiap insan memiliki takdirnya masing-masing. Begitu pula yang di alami Sarpudin warga Desa Bajubang Laut Kecamatan Muara Bulian. Dimana ia tidak bisa berjalan, karena lumpuh akibat kecelakaan tunggal yang ia alami empat belas tahun lalu.

REZA FAHLEVI-MUARABULIAN

KONDISI Saripudin warga Desa Bajubang Laut RT 02 cukup menyedihkan. Sudah 14 tahun dirinya tidak bisa memberikan nafkah kepada anak dan istrinya, karena kondisinya saat ini lumpuh sejak 03 Juli 2003 yang lalu karena kecelakaan di Jalan Ness.

Akibat kecelakaan ini, saat ini dirinya mengalami kelumpuhan total. Bahkan hingga saat ini Sarpudin tidak kunjung sembuh. Ia harus terbaring lemah di atas kasur. Jangankan mau berdiri, duduk saja Sarpudin tidak bisa, sebab saat ini semua syaraf otot tubuh Sarpudin tidak lagi berfungsi.

Pria kelahiran 20 Februari 1968 kini hanya bisa menangis dan meratap nasibnya di atas kasur saat mengingat kejadian 14 tahun lalu itu. Bagaimana tidak, ia tidak berbuat apa-apa atas deritanya belaan tahun karena keterbatasan yang dimilikinya.

Diumurnya yang sudah menginjak 49 tahun, Sarpudin yang pernah menimba ilmu di PGSLTP (D2) Kelas jauh Kuala Tungkal tidak tidak bisa membahagiakan keluarganya. Bahkan saat ini anaknya Veni tidak bisa untuk melanjutkan ke bangku kuliah, karena tidak adanya biaya.

Untuk menopang kehidupan mereka, maka istrinya Indrawati selama empat belas tahun banting tulang menafkahi keluarganya. Tak banyak yang bisa di perbuat Indrawati, sebab ia harus berbagi waktu antara mencari nafkah dan mengurus keluarganya.

Berkat ketabahannya menghadapi cobaan ini, Indrawati kuat dan tabah, karena harus mengurus semua keperluan suaminya mulai dari makan, mandi dan buang air besar selama 14 tahun ia lalu.

Makanya Indrawati berharap ada bantuan dari Pemkab Batanghari maupun Pemrov Jambi serta dermawan. Sebab saat ini untuk biaya pengobatan selama belasan tahun ia tanggung sendiri.

Kinitu kami sudah dak tau lagi nak nagdu kemano. Jadi usaha deweklah, padahal jangankan untuk beli obat, untuk makan sehari-hari be lagi sulit, kaluh Indrawati.

Dikatakannya, ia sadar hidup tetap harus dijalani dan dilalui. Dirinya tidak bisa untuk berpangku tangan dan mengharapkan imbalan dari orang lain, sebab bantuan bisa saja terbatas, namun semangat untuk menghidupkan keluarga tidaklah terbatas.

Sayo pengenlah ado bantuan untuk suami sayo, tapi dak tau nak ngadu kemano dan ke siapo, kareno jalurnyo kami dak tau kemano. Maklumlah kami ko orang dusun dan orang susah pulak. Kadang cakap kami dak di kaning (tidak di dengar-, red) orang, akunya.

Sarpudin mengakui bahwa dirinya sudah lelah untuk menjalankan hidup di atas kasur. Ia ingin seperti manusia normal lainnya, sebab dari mulai anaknya belum sekolah, hingga lulus SMK dirinya belum bisa apa- apa, jangankan bisa berjalan duduk saja saat ini juga belum mampu.

Hampir tiap harinya sayo nangis, kareno ibo ngenang nasib ko. Namun nak di apokanlah, sudah takdir, akunya denghan linangan air mata.

Dirinya tidak pernah mendapatkan program bantuan dari pemerintah, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Katonyo ado program kartu KIS, kartu KIP dan yang lain itu, tapi sayo ko dak ado nerimo. Itulah setiap ado bantuan dak pernah dapat sayo ko. Padahal susah hidupko tuhanlah yang tau, kadang ibo dan nangis rasoe, cuma nak diapokanlah lah sudah sukat (garis tangan, red) kato orangtuo dulu, mau dak mau terimo belah. tutup Sarpudin sambil mengelap air matanya. (*)


Berita Terkait



add images