iklan Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAMBIUPDATE.CO, SAROLANGUN - Rendahnya harga komoditi karet di Kabupaten Sarolangun ternyata berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Pasalnya, sebagian petani karet mengantungkan hidup dengan hasil kebun mereka.

Diantara dampak tersebut, yakni turunnya daya beli masyarakat dan anak putus sekolah karena orang tuanya bekerja sebagai penyadap karet.

Koordinator  Sarolangun Care, Awang Azhari mengakui, karena rendahnya harga karet saat ini, membuat daya beli masyarakat di pedesaan menurun drastis. "Salah satu contohnya Singkut, saya banyak menemukan anak putus sekolah, yang  orang tuanya bekerja sebagai penyadap karet," kata Awang.

Menurutnya, anjloknya harga karet di tingkat petani tidak murni karena pengaruh ekonomi global. Dan sebenarnya Pemerintah Kabupaten Sarolangun tetap bisa mengambil langkah taktis dan strategis.

"Kenapa begitu, saya melihat besaran harga karet di Sarolangun sangat variatif, ada yang lumayan tinggi dan ada yang hanya Rp 4.500 per kilogram," paparnya.

Di Kecamatan Pelawan contohnya kata Awang, ternyata harga karet di petani berkisar Rp 8 ribu, tapi di Singkut ada yang hanya Rp 5 ribuan.

"Jadi yang harus dilakukan Pemerintah Kabupaten saat ini, meratakan harga tertinggi karet di semua wilayah Sarolangun," tandasnya.(hnd)


Berita Terkait



add images