JAMBIUPDATE.CO, JAMBI-Pasca Wukuf di Padang Arafah, kondisi fisik Jamaah Haji (JH) Jambi menurun. Akibatnya beberapa orang jamaah terpaksa dirujuk ke berbagai rumah sakit disekitar Mina dan Muzdalifah.
Ketiga jamaah tersebut adalah Bakri Bin Fakhruddin (67) asal Kloter 19 yang dirujuk ke RS Mina Al Wadi. Jamaah ini mengeluhkan sesak nafas dan nyeri dada. Lalu ada Ahmad Bin Daya (62) asal Kloter 20 dari Sekernan di rujuk ke RS Mina.
Kedua Parni Bin Jakun dari Kloter 18 yang dirawat di RS Arab Saudi dengan keluhan radang paru kronis dan Muhairiyah Muhammad Aini yang dirawai di RS Mina Al Wadee Hospital dengan diagnose broncopeumonia (saluran napas kecil pada paru- paru).
Hal ini dibenarkan Kabid PHU Kemenag Jambi, H. Herman saat dihubungi kemarin. Menurut Herman kondisi cuaca di Mina dan Muzdalifah yang cukup panas dan sebagian jamaah katagaori Risti menyebabkan cukup rentan.
Memang ada 3 jamaah kita dirujuk ke RS Mina dan RSAS karena sakit. Kita doakan semoga jamaah yang sakit ini cepat sembuh dan bisa melaksanakan rangkaian ibadah haji, ujar Herman saat ditemui.
Untuk jamaah yang dirawat, maka akan melontarnya akan diwakilkan pihak petugas kloter. Untuk jamaah yang sakit, maka melontar jumrohnya bisa diwakilkan. Jadi tidak ada masalah, karena yang terpenting Wukuf di Arafah, bebernya.
Sementara itu Ketua Kloter 20, H. Syaifullah Rasidi mengakui bahwa jamaah haji yang dirawat di RS Mina saat ini kondisinya sudah membaik. Bahkan sudah dibolehkan pihak RS Mina untuk bergabung dengan jamaah lainnya.
Alhamdulillah pak Ahmad Bin Daya sudah kembali ke tenda Mina Maktab 66 dan sudah berkumpul dengan jamaah lainnya, aku Syifaullah saat dihubungi.
Pada Kloter 16 juga ada seorang jamaah haji harus dirawat di tenda, karena kondisinya sangat lemah. Jamaah tersebut bernama Sumarni inti Trisno (55). Diagnisisnya observasi vomitus dengan riwayat DM tipe II. Keluhannya mual dan muntah saat WUkuf.
Setelah kita beri infuse dan obat, kondisi pasien stabil. Selanjutnya pasien dapat melakukan Mabit di Muzdalifah dan melempar Jumroh Aqobah. Untuk pasien lain rawan jalan cukup banyak, aku TKHI Kloter 16, Dr. H. Andre Wilia Putra. (kta)
