Tari Ngagah Harimau saat ditampilkan beberapa waktu lalu
Tari Ngagah Harimau saat ditampilkan beberapa waktu lalu

JAMBIUPDATE.CO, KERINCI- Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, terkenal banyak memiliki warisan seni dan budaya. Uniknya, setiap Desa memiliki banyaknya budaya dan adat yang hingga saat ini masih dilestarikan. Salah satunya Tarian Ngagah Harimau

IRVA GUSNADI, Kerinci.

DESA Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci terkenal sebagai salah satu desa yang teguh memegang tradisi dan adat istiadat. Budaya dan adat yang hingga kini masih dilestarikan seperti nyanyian (tale), cerita rakyat (sakung), serta tarian-tarian tradisional yang berkembang dari zaman nenek moyang dan masih populer hingga zaman modern sekarang ini.

Salah satu contohnya adalah Tari Ngagah Harimau, yang baru-baru ini telah meraih sertifikat budaya tak benda, dan diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Padahal pada tahun lalu, para penari Ngagah Harimau pernah dilecehkan oleh Pemerintah Kabupaten Kerinci dikarenakan tidak ditampilkan pada salah satu acara yang digelar pemerintah. Padahal, sebelumnya mereka telah diundang untuk menampilkan tarian Ngagah Harimau, dengan telah mengeluarkan biaya banyak untuk sewa mobil dan kostum.

Namun, hal tersebut tak membuat mereka surut semangat untuk memperkenalkan tarian tersebut hingga akhirnya meraih sertifikat budaya tak benda Indonesia.

Sekilas memang terdengar aneh dengan tarian ini, tarian ini diadakan dalam acara mengagah harimau yang mati di Kerinci. Menurut cerita warga Pulau Tengah, tari ini dipercaya apabila ada harimau mati di daerah Kerinci, haruslah diagah oleh masyarakat Desa agar harimau yang lain tidak turun ke kampung dan memangsa para manusia.

Dikisahkan awal mula tarian ini adalah, terjadi sebuah hubungan antara masyarakat Kerinci dan harimau. Dahulu kala, ada seorang pemuda yang menikah dengan harimau dan mempunyai seorang putri bernama Sarimenanti, setelah menikah dengan harimau, pemuda ini juga menikah dengan gadis Desa di Pulau Tengah.

Dulu, Pulau Tengah disebut Pasmah Tinggi dan negeri harimau disebut Pasmah Rendah. Akibat pemuda ini melanggar dan tidak menepati janji yang dibuatnya di negeri harimau, maka para harimau meminta pembayaran janji itu dengan banyaknya kain 40 kayu dengan warna hitam, putih dan merah, serta emas setinggi tegak pemuda itu.

Pada saat pembayaran janji itu, dibuatlah sebuah hubungan persaudaraan antara masyarakat Pulau Tengah dengan harimau, sehingga apa bila ada harimau yang mati di daerah hutan masyarakat Pulau Tengah haruslah dihormati dengan cara mengagahnya, maka munculah Tari Ngagah Harimau.
Tarian ini dilakukan oleh penari terdiri dari 8 orang gadis Desa Pulau Tengah, dengan memakai baju layaknya harimau yang memiliki belang. Gerakan tari juga disertakan dengan gerakan silat pedang, pada saat menari harimau yang sudah mati diletakkan di hadapan para penari, asap kemenyan tercium dan gendang-gendang beserta gong mulai dimainkan.

Diberilah tukaran atas harimau itu, yaitu mata diganti benda mengkilat, belang diganti kain 3 warna, taring diganti keris, kuku diganti pedang, ekor diganti tombak (kujeu), serta suara diganti dengan gong. Pada saat tarian ini berlangsung, banyak warga desa yang mulai kemasukan roh dari harimau. Mereka berteriak-teriak dan berlagak sama halnya dengan harimau, berguling-guling dan mencakar tanah.

Harun Pasir, pencipta tari Ngagah Harimau Pulau Tengah, dikonfirmasi mengatakan bahwa awalnya ritual Ngagah Harimau ini dilakukan ketika ditemukan harimau mati di belantara hutan Pulau Tengah, Kerinci. Namun dalam perjalanannya, ritual dijadikan sebuah seni pertunjukan.

"Kalau mau menunggu harimau mati, mungkin tradisi ini sudah tidak akan pernah terlihat lagi," katanya.

Menurut Harun, ritual Ngagah Harimau sudah ada dari nenek moyang mereka. Saat masih kecil, Harun mengaku sudah melihat ritual ini. "Terakhir saya melihat tahun 70an. Setelah itu tidak ada lagi harimau mati ditemukan di wilayah Pulau Tengah," ujarnya.

Upaya melestarikan tradisi Ngagah Harimau ini kata Harun, berawal dari rasa ingin tahunya ketika melihat Pemangku Adat membaca mantra saat upacara ritual Ngagah Harimau dilakukan. "Saya tanyakan langsung apa yang dibaca, pemangku adat sampai menepuk lantai memarahi saya," ujarnya mengenang.
Namun, kejadian itu tak membuatnya surut. Ia mendatangi kembali sang pemangku adat itu. "Akhirnya saya diajarkan juga," katanya.
Saat itu, pemangku adat memberitahu bahwa ada perjanjian yang tidak tertulis antara nenek moyang orang Pulau Tengah dengan harimau. Terutama, tiga harimau milik negeri berjuluk Pemangku Gunung Rayo, Hulubalang Tigo, dan Rintik Hujan Panas.

"Rintik hujan panas, untuk menunggu ladang, dipanggil cepat datang. Sesat di belantara, panggil Pemangku Gunung Rayo penunjuk penjago di Rimbo. Hulubalang Tigo ke aek jadi buayo, seberang laut datang jugo," katanya.

Ritual semacam itu dilakukan, kata Harun, karena pernah terbukti ada Harimau melanggar perjanjian. "Pernah tahun 70an seekor harimau besar masuk ke dalam kampung dan mengambil kambing. Masyarakat menghalaunya kembali masuk hutan," ujarnya.

Dalam perjanjian itu warga percaya ketika ada harimau yang melanggar maka tiga harimau milik negeri Pulau Tengah yang akan menghukumnya. "Tiga hari setelah kejadian itu, ada yang menemukan harimau yang mencuri kambing tadi mati. Tubuhnya tercabik-cabik seperti dicakar harimau lain," kata Harun.
Saat itu kemudian dilakukan ritual Ngagah harimau. "Bayar bangun istilah kami, utang lepas, tando kembali, silang sengketo tidak ado lagi, yang lain tidak mengganggu kembali," kata Harun.

Saat ritual dilakukan, beberapa peralatan dipersiapkan sebagai bayar bangun kematian harimau. Belang harimau diganti dengan tiga helai kain, taring diganti dengan keris telanjang, kuku diganti dengan pedang, ekor diganti dengan tombak, mata diganti dengan benda berkilat atau kaca, dan suara digantikan dengan gong.

Diakui Harun, setiap ritual dilakukan, memang pemain atau penonton bisa kerasukan. Biasanya, yang kerasukan memiliki hubungan dengan tiga harimau milik negeri, maupun harimau lain secara pribadi. "Ada juga yang bersahabat secara pribadi. Bahkan mereka sampai menangis ketika ritual ini dilakukan," kata pria yang sudah berusia 78 tahun ini.

Sementara itu Kepala Dinas Budparpora Kabupaten Kerinci, Ardinal, mengatakan bahwa dengan telah diraihnya sertifikat warisan budaya tak benda Indonesia, tentunya pihaknya berkomitmen untuk terus menjaga salah satu seni budaya asal Kabupaten Kerinci. "Kita tetap berkomitmen untuk mengembangkan dan memanfaatkan, serta melakukan pembinaan terhadap warisan budaya tak benda tersebut, sebagai kekuatan budaya dalam pembangunan," ungkapnya. (*)

 


Komentar

Berita Terkait

WASPADA! 8 Daerah di Bungo ini Rawan Banjir

Kembali Sidak, Tim Masih Temukan Skat Kamar di Kincay Plaza

Warga Senang Rumahnya Dibedah, Dapat Bantuan Program TMMD

Penemuan Reruntuhan Batu Mirip Candi di Pemayung

Rekomendasi




add images