Oleh : Mukhtadi Putranusa
Ada pemimpin yang lebih senang duduk di belakang meja. Namun, Zulfikar Achmad justru dikenal sebagai sosok yang tak betah berlama-lama di kantor.
Topi koboi menjadi ciri khasnya. Dengan gaya bicara tegas dan langkah yang kerap membawanya turun langsung ke lapangan, ia ingin melihat sendiri apa yang harus dibangun, apa yang perlu dibenahi, dan apa yang dibutuhkan masyarakat.
Kini, sosok yang pernah memimpin Kabupaten Bungo selama dua periode itu telah berpulang.
BACA JUGA: Kabar Baik! Usai HUT Sungai Penuh, 1.513 PPPK Paruh Waktu Segera Teken Kontrak Baru
Drs. H. Zulfikar Achmad, mantan Bupati Bungo sekaligus anggota DPR RI dari Partai Demokrat, meninggal dunia di Rumah Sakit Premier Jakarta, Rabu (4/11/2026) sore.
Kabar kepergiannya menyebar cepat dan menyisakan duka bagi masyarakat Jambi, terutama warga Kabupaten Bungo.
Bagi sebagian orang, ia adalah mantan kepala daerah dan anggota parlemen. Namun, bagi masyarakat yang pernah merasakan masa kepemimpinannya, Zulfikar merupakan bagian dari perjalanan pembangunan Bungo.
BACA JUGA: Kabar Duka, Anggota DPR RI Zulfikar Achmad Meninggal Dunia di Jakarta
Ia dikenal dengan julukan Bapak Pembangunan Bungo. Sebuah sebutan yang melekat pada sosok yang memimpin daerah itu pada 2001–2006 dan 2006–2011.
Topi Koboi dan Gaya Memimpin yang Tak Betah di Kantor
Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Jambi, Mukhtadi Putranusa, termasuk orang yang mengenal sosok Zulfikar Achmad secara langsung.
Kenangan itu bermula ketika Mukhtadi mendirikan Bungo Pos pada 2005. Saat itu, Bungo Pos menjadi koran harian pertama yang berdiri di Kabupaten Bungo.
BACA JUGA: Sampaikan Duka Mendalam, Dedy Putra Sebut Kepergian Zulfikar Achmad Merupakan Kehilangan Besar
Dalam pandangan Mukhtadi, Zulfikar merupakan pemimpin yang tegas dan memiliki gaya kepemimpinan khas. Topi koboi yang hampir selalu dikenakan bukan sekadar penampilan, tetapi menjadi bagian dari identitasnya.
“Beliau orangnya tegas. Dengan topi koboi itu, beliau punya ciri khas sendiri. Zulfikar tidak betah di kantor. Beliau sering turun ke lapangan untuk melihat dan mendengar langsung apa yang harus dibangun di Bungo,” kenang Mukhtadi.
Menurutnya, kemajuan Bungo, terutama kawasan ibu kota Muara Bungo, tidak terlepas dari sentuhan kepemimpinan Zulfikar selama dua periode.
Mukhtadi menilai, perubahan wajah Muara Bungo pada masa itu menjadi salah satu jejak yang paling mudah diingat masyarakat.
