Al Haris menambahkan, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pemerintah juga terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Menteri Kehutanan Sebut Kondisi Karhutla Mulai Membaik
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan kondisi karhutla di Jambi mulai membaik dibandingkan tiga minggu sebelumnya. Meski demikian, pemerintah tetap memperkuat penanganan dan pencegahan kebakaran, termasuk melalui pemanfaatan potensi hujan dan peningkatan patroli.
Berdasarkan pemantauan melalui sistem Sipongi, titik panas (*hotspot*) pada tingkat kepercayaan tertentu sudah tidak terdeteksi. Namun, hasil pengecekan langsung di lapangan masih menemukan kondisi yang perlu mendapat perhatian di dua lokasi.
“Alhamdulillah, keadaan Jambi jauh lebih baik dibandingkan tiga minggu lalu ketika saya datang ke sini. Di Sipongi, untuk tingkat kepercayaan tertentu, *hotspot* bahkan sudah tidak ada. Meskipun dari pengecekan di lapangan tadi masih ada di dua tempat,” kata Raja Juli Antoni.
Ia menjelaskan, berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di Jambi diprediksi masih tinggi hingga 2 November 2026. Kondisi tersebut diharapkan membantu pembasahan lahan sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
Selain mengandalkan hujan, pemerintah akan memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan pembasahan lahan oleh petugas. Setelah periode hujan tersebut, patroli gabungan yang melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, BNPB, dan instansi terkait juga akan ditingkatkan untuk mencegah munculnya titik api baru.
Raja Juli Antoni menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat agar kondisi yang mulai membaik tidak kembali memburuk.
