iklan Petani di Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjemur buah pinang kocek untuk mempercepat proses pengeringan sebelum dijual.
Petani di Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjemur buah pinang kocek untuk mempercepat proses pengeringan sebelum dijual.

JAMBIUPDATE.CO, MUARASABAK – Cuaca panas selama musim kemarau membawa keuntungan bagi petani pinang di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi. Teriknya matahari membantu mempercepat proses pengeringan buah pinang sebelum dijual ke pengepul.

Bagi petani di Kecamatan Kuala Jambi, kondisi ini membuat proses penjemuran lebih efisien. Jika cuaca tidak menentu membuat pengeringan membutuhkan waktu lebih lama, kini buah pinang bisa kering hanya dalam dua hingga tiga hari.

BACA JUGA: Sepanjang 2026, Kasus ISPA di Bungo Capai 4.900

Linda Safitri, salah seorang petani pinang di Kecamatan Kuala Jambi, mengatakan cuaca panas sangat membantu proses pengeringan hasil perkebunan. Setelah mencapai tingkat kekeringan yang diinginkan, pinang bisa segera dipasarkan.

"Kalau musim panas begini, buah pinang yang kami jemur cepat kering. Sekitar dua atau tiga hari sudah kering dan siap dijual," ujarnya.

BACA JUGA: Polres Kerinci Tangkap 3 Orang Terkait Dugaan Penyalahgunaan Solar Subsidi, 70 Jerigen Disita

Dari sisi harga, pinang kering kelotok saat ini dihargai sekitar Rp18 ribu per kilogram. Sementara itu, pinang dengan kualitas di bawahnya dijual Rp11 ribu per kilogram, sedangkan kualitas terendah berkisar Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kilogram.

Petani lainnya, Fatimang, mengungkapkan cuaca panas membuat petani lebih mudah menghasilkan pinang kering kelotok. Proses penjemuran yang lebih singkat juga memungkinkan hasil panen lebih cepat dijual.

"Sekarang jarang kami menjual pinang yang belum kering kelotok. Soalnya, cuaca panas membuat proses penjemuran lebih mudah dan cepat," tuturnya.

BACA JUGA: Serah Terima Ibu Asuh Polwan Polda Jambi, Kapolda Tekankan Pembinaan Humanis

Meski menguntungkan dari sisi pengeringan, kondisi tanaman pinang tetap bergantung pada ketersediaan air. Di Kecamatan Kuala Jambi, aliran air dari parit dan sungai yang masih lancar, terutama saat air pasang, membantu memenuhi kebutuhan air tanaman.

Di sisi lain, petani berharap musim kemarau tidak berlangsung terlalu lama. Cuaca panas berkepanjangan dikhawatirkan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menurunkan kualitas udara, serta mengancam permukiman warga yang sebagian besar rumahnya masih berbahan kayu.

Petani berharap cuaca tetap mendukung aktivitas perkebunan, tetapi hujan segera turun agar risiko kekeringan dan kebakaran dapat dihindari. (lan)


Berita Terkait



add images