iklan Penangkaran benih kedelai yang dikelola Kelompok Tani Bambu Runcing di Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Penangkaran benih kedelai yang dikelola Kelompok Tani Bambu Runcing di Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

JAMBIUPDATE.CO, MUARASABAK – Upaya meningkatkan nilai ekonomi komoditas kedelai mulai dilakukan petani di Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Jika sebelumnya petani lebih berorientasi pada produksi kedelai konsumsi, kini mereka mulai diarahkan menjadi penangkar benih yang memiliki peluang pasar lebih luas dan nilai jual lebih tinggi.

Langkah tersebut diwujudkan melalui pengembangan kedelai varietas Detap yang dilakukan Kelompok Tani Bambu Runcing bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada musim tanam 2026, budidaya kedelai dilakukan di lahan seluas tiga hektare dengan target utama menghasilkan benih bersertifikat.

BACA JUGA: Kemhan RI Gelar Workshop Pembinaan Kesadaran Bela Negara Lingkup Masyarakat Di Provinsi Jambi TA. 2026

Program ini menjadi salah satu terobosan dalam pengembangan komoditas kedelai di Tanjabtim. Petani tidak hanya mengejar hasil panen untuk kebutuhan konsumsi, tetapi juga diarahkan memproduksi benih yang nantinya dapat digunakan sebagai sumber tanam di daerah lain.

Dari areal yang dikembangkan, produksi benih diperkirakan mencapai sekitar lima ton setelah melalui tahapan seleksi dan pengujian mutu. Jika mengacu pada harga benih yang berkisar Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram, nilai produksi tersebut berpotensi mencapai puluhan juta rupiah.

BACA JUGA: Sidang PDAM Tirta Mayang,Dirut PT DHS Pusat Sebut Cabang Berdiri dan Beroperasi Terpisah

Varietas Detap dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan agronomis. Salah satunya adalah ketahanan terhadap pecah polong yang kerap menjadi penyebab kehilangan hasil saat panen. Karakter tersebut dinilai mendukung pengembangan kedelai sebagai sumber benih.

Saat ini, hasil budidaya masih menjalani proses sertifikasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi. Sertifikasi tersebut menjadi salah satu syarat sebelum benih dapat dipasarkan secara resmi kepada petani maupun lembaga pengguna lainnya.

Dalam pengembangannya, petani mendapat pendampingan langsung dari tim IPB yang dipimpin Prof. Munif Ghulamahdi. Pendampingan dilakukan mulai dari penerapan teknik budidaya hingga pemenuhan standar mutu benih agar hasil produksi memenuhi persyaratan sertifikasi.

BACA JUGA: Usai Dua Pejabat Mundur, 8 Kepala OPD Pemkot Jambi Masuk Radar Evaluasi

Tim pendamping menjelaskan, pengembangan kedelai di Tanjabtim diarahkan untuk memperkuat sektor penangkaran benih sesuai kebijakan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura. Strategi tersebut dinilai lebih menguntungkan karena harga benih relatif stabil dibandingkan kedelai konsumsi yang sangat dipengaruhi kondisi pasar.

Prospek pemasaran benih tersebut juga mulai terbuka. Benih yang dihasilkan Kelompok Tani Bambu Runcing diproyeksikan akan diserap PT Agrinas untuk mendukung pengembangan komoditas kedelai di Sumatera Utara.

Ke depan, program ini diharapkan dapat berkembang melalui pola kemitraan yang memberikan dukungan sarana produksi, pembinaan teknis, serta jaminan pasar. Dengan demikian, petani di Rantau Rasau tidak hanya menjadi penghasil komoditas pertanian, tetapi juga mampu menjadi pemasok benih unggul untuk memenuhi kebutuhan antardaerah.(*)


Berita Terkait



add images