Masjid Syuhada yang berdiri di Desa Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Batanghari, dibangun dengan sumbangan emas dan kerbau dari beberapa orang tokoh agama
Masjid Syuhada yang berdiri di Desa Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Batanghari, dibangun dengan sumbangan emas dan kerbau dari beberapa orang tokoh agama ( REZA FAHLEVI/JU)

TAHUN ini,  usia Masjid Syuhada yang terletak di Desa Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, lebih dari satu abad.  Masjid tersebut dibangun pada tahun 1918, zaman di mana penjajah Belanda masih mencengkramkan tangannya di Bumi Pertiwi.

REZA FAHLEVI, Batanghari

MASJID yang didirikan jauh sebelum Indonesia merdeka ini dibangun oleh beberapa tokoh masyarakat dan para pemuka agama.

Para pemuka agama itu, tidak hanya menyumbangkan tenaga mereka, akan tetapi harta benda untuk berdirinya sebuah peradaban.

Mereka  diantaranya H. Abdullah (Dolah). Ia pernah menyumbangkan 20 suku emas. Kemudian H. Zainudin (Din) menyumbang 15 suku emas, H. Mu’in 5 suku emas, H. Saib menyumbang 5 suku emas, H. Syafi’i menyumbangkan 3 ekor kerbau dan Jago Pati menyumbangkan 2 ekor kerbau, untuk pembangunan masjid.

Jika kita lihat usia masjid Syuhada memang sudah tua, bahkan sebelum Indonesia merebut kemderdekaan pada tahun 1945, rumah ibadah yang berlokasi di desa Terusan Kecamatan Muarosebo Ilir ini sudah didirikan. Jika dilihat ke belakang, rasanya tidak mungkin pada tahun 1918 Bumi Serentak Bak Regam sudah memiliki masjid yang kokoh dan bagus. Namun berkat beberapa tokoh yang menjadi penggerak dan penyandang dana tersebut Masjid Syuhada bisa didirikan.

BACA JUGA : Berkonstruksi Kayu Bulian, Didirikan Habib Said Idrus dari Yaman

Reflizer yang merupakan tokoh agama Desa Terusan mengatakan, sejarah dari masjid Syuhada ini dulunya panggung dan diberi nama masjid Imam Ahmad.

Namun entah bagaimana, masjid ini berubah nama yakni menjadi masjid Syuhada karena salah satu pejuang yang ada di desa Terusan tersebut yakni H. Jalil gugur sebagai Syuhada saat melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda dan dimakamkan tepat di samping masjid yang diberi nama Syuhada ini.

‘’Sehingga tokoh-tokoh masyarat, alim ulama,tuo tengganai dan cerdik pandai di desa Terusan sepakat dan bermufakat untuk mengganti nama masjid tersebut dengan nama Syuhada, dan itu juga bertujuan untuk mengenang dan mengingat H.Jalil yang gugur pada saat melawan ketimpangan dan kejahatan dari penjajah Belanda,’’ ungkap Reflizer.

Reflizer mengatakan, masyarakat Kabupaten Batanghari sangat bangga dengan keberdaan masjid Syuhada ini. Namun masjid ini hanya tinggal sejarah yang tersirat dan cerita yang tersurat. Bukti dari keberadaanya hanya dapat dilihat dari sepotong tiang yang ada di samping masjid tersebut, dan letak dari Masjid Syuhada ini persis di atas tanah bekas masjid yang dulunya di bangun dengan bangunan panggung.

BACA JUGA: Tiang Penyangga dari Kalimantan, Dibangun Atas Inisiatif 3 Ulama

Waktu demi waktu terus berjalan, pada tahun 1929 masjid ini dilakukan pemugaran karena pada masa itu masyarakat Desa Terusan yang bermukim di pinggiran Sungai Batanghari terus bertambah dan jamaah yang sholat semakin banyak. Akibatnya masjid tersebut tidak bisa lagi menampung jemaah, dan di sinilah gagasan demi gagasan akhirnya dilontarkan oleh masyarakat. Dan sepakatlah untuk memperbesar masjid tersebut.

‘’Tapi rencana itu tidak langsung terwujud. Butuh waktu yang cukup lama dan rencana itu empat tahun baru terwujud dan tepatnya pada tahun 1933 masjid yang dulunya panggung  dibongkar, sehingga masyarakat Desa Terusan melakukan sholat di tanah lapang tepat di depan masjid,’’ bebernya.

Pemugaran masjid ini dikerjakan oleh tukang dari China dan Singapura yang dikenalkan oleh H Jalil kepada Saman Betet, yang menjadi utusan warga Terusan untuk mencari tukang ke Kota Jambi.

Dan dari perkenalan inilah Saman Betet dan H Jalil membawa orang-orang China dan Singapura itu ke Desa Terusan untuk mengecek lokasi masjid dan membuat perencanaan pembangunan.

Sampai di desa Terusan, tukang dari Singapura dan China ini menyarankan agar masjid di bangun 50 meter dari tebing Sungai Batanghari yang kebetulan tepat berada di lokasi masjid panggung yang telah dibongkar.

Kemudian untuk pembangunan masjid ini, salah seorang warga, Bilal Penek, mewakafkan tanah seluas 10 depa sehingga dibangun masjid yang pada awalnya berukuranpanjang 15,80 M dengan lebar 16 meter, dengan Mihrab atau tempat imam berukuran 3,20 meter dan lebar 3,20 meter. Dalam perkembangannya, masjid kembali direnovasi dan dibesarkan dengan panjang 17,80 meter dengan lebar 18 meter, dilengkapi dengan halaman pada kiri masjid.

“Masjid kebanggan desa Terusan ini didesain oleh KH. A. Majid Hamzah dari Tanjung Johor Jambi, begitu pula bahan-bahan bangunan sebagian besar berasal dari Jambi yang pada saat itu untuk sampai ke desa Terusan di angkut menggunakan kapal uap dari kincir,” terangnya.

Dan tercatat dalam sejarah, nama Nurdin Hamzah juga ada andil dalam pembangunan masjid tertua di kabupaten Batanghari ini. Dalam pelayarannya, ia pernah singgah dan berinfak sebesar 1 ringgit atau setara 700.000 pada waktu itu. Masjid Syuhada sudah mengalami beberapa kali renovasi, namun demikian beberapa bukti peninggalan sejarah dapat di lihat dari bangunan itu yang merupakan perpaduan arsitek melayu dengan china.

Dengan beberapa keunikan yang dapat kita lihat seperti lantai dan bagian dinding di keramik tua, pintu besar dan jendela tiang induk ada 12 tangga di dalam masjid dan itu bertujuan untuk mengumandankan Adzan pertanda waktu sholat sudah tiba. Namun keaslian masjid ini juga dapat kita lihat dari bentuk dek flapon dan lubang angin (ventilasi) bentuk kubah di bagian atas serta bentuk mimbar di khatib. Dan masjid ini sangat berguna dan bersejarah yang memiliki nilai jual tersendiri bagi Bumi Serentak Bak Regam dan desa Terusan.

Mukhlis yang merupakan tokoh agama warga setempat mengatakan, perkembangan Islam Kabupaten Batanghari khususnya di Desa Terusan saat itu menggunakan lantunan syair - syair.

"Dulu para tuan guru menyebarkan Islam dengan lantunan syair-syair, kemudian tradisi yang islami, selalu ada pengajian-pengajian, memang di sini adat dan budaya Islam masih sangat terjaga sampai sekarang," tutur Mukhlis. (bersambung)


 


Komentar

Berita Terkait

Sengaja Renang saat Puasa Ramadan, Batal atau Tidak?

Zakat untuk Penanggulangan Covid-19

Saum Ramadan, Begini Doa Berbuka Puasa

Salat Idul Fitri di Rumah, Bisa tanpa Khotbah

Rekomendasi




add images