Ilustrasi.
Ilustrasi. (FASIAL R. SYAM / FAJAR INDONESIA NETWORK)

JAMBIUPDATE.CO, CIBEUREUM – Kasus Covid-19 di Kota Tasikmalaya kembali melonjak di mana muncul 66 pasien baru dalam sehari, Jumat (20/11). Pasien tersebut berasal dari lingkungan salah satu Pondok Pesantren di Kecamatan Cibeureum.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Tasikmalaya, Drs H Ivan Dicksan mengakui bahwa lonjakan pasien Covid-19 kembali terjadi. Sebanyak 66 pasien baru tersebut didominasi dari klaster pesantren. “Berdasarkan laporan dari 66 pasien yang masuk hari ini (kemarin, Red) 48 pasien diantaranya dari pesantren,” katanya Ivan kepada Radar, Jumat (20/11).

Soal sumber penularannya, Ivan mengaku belum bisa memastikan. Namun tim lapangan masih melakukan penelusuran dan penanganan di pesantren. “Tim juga sekarang masih ada yang di pesantren,” terangnya.

Dalam penanganan klaster pesantren tersebut, pihaknya menerapkan isolasi mandiri di lingkungan ponpes. Karena lokasinya cukup memungkinkan dengan area yang luas. “Jadi isolasi mandiri di lingkungan pesantren,” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr Uus Supangat mengatakan pihak pesantren cukup kooperatif. Sehingga penanganan bisa berjalan lancar tanpa kendala berarti. “Bahkan sebelum kita periksa, mereka sudah memeriksakan secara mandiri,” tuturnya.

Pihaknya pun sedang mengembangkan pesantren tersebut menjadi pesantren tangguh Covid-19. Supaya mereka punya kompetensi menangani ketika ada pasien baru. “Karena mereka juga sudah siap dengan tim medisnya,” tuturnya.

Di luar itu, pihaknya juga meminta kepada masyarakat di sekitar untuk tidak khawatir. Meskipun di pesantren terdapat pasien positif, tidak akan sampai menularkan ke luar. “Kami harap tidak ada penolakan sarana isolasi, baik itu pesantren, rumah sakit atau sarana lainnya,” katanya.

Covid-19 merupakan virus yang perlu dihindari oleh masyarakat, yakni dengan menerapkan protokol kesehatan. Hal itu tidak serta merta harus mendiskreditkan orang yang terkonfirmasi positif. “Yang dihindari itu penyakitnya, jangan sampai mendiskreditkan pasiennya,” tegas dia.

Dalam hal isolasi, pondok pesantren tidak bisa disamakan dengan klaster keluarga. Sehingga pasien positif bisa diisolasi secara mandiri di pesantren. “Situasinya beda, klaster rumahan rawan kalau isolasi mandiri,” terangnya. (rga/RDtasik)


Sumber: www.fin.co.id

Komentar

Rekomendasi




add images