Ilustrasi.
Ilustrasi. (Ne5)

JAMBIUPDATE.CO, JAKARTA – Inflasi periode Mei 2020 sebesar 0,07 persen secara bulanan (month to month/mtm). Posisi ini lebih rendah dibandingkan April 2020 0,08 persen dan Mei 2019 sebesar 0,68 persen.

Sementara inflasi secara tahununan (year to year (ytd) mencapai 2,19 persen pada April 2020.

“Inflasi Mei 2020 kecil sekali yaitu 0,07 persen. Biasanya permintaan meningkat sehingga inflasi tinggi, tapi tahun ini tidak terjadi. Akibatnya inflasi tahunannya juga rendah cuma 2,19 persen dibandingkan inflasi tahun lalu yang 2,67 persen,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto, Selasa (2/6).

Penurunan inflasi karena adanya pandemi virus corona atau Covid-19. Ya, dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah berdampak pada pendapatan masyarakat berkurang. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

“Adanya PSBB membuta aktivita sosial menjadi menurun, pendapatan juga turun. Itu yang menyebabkan permintaan menurun,” katanya.

Lanjut Suhariyanto, inflasi tertinggi berasal dari kelompok transportasi dengan andil 0,1 persen dan inflasi 0,87 persen. Sumbangan inflasi lainnya berasal dari kelompok kesehatan dengan andil 0,01 persen dan inflasi sebesar 0,27 persen.

Selanjutnya inflasi lainnya terjadi di kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,12 persen. Kemudian, kelompok penyediaan makanan dan minuman juga tercatat inflasi sebesar 0,08 persen. Sedangkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang deflasi sebesar 0,32 persen.

Berdasarkan wilayah, inflasi terjadi di 67 kota dari 90 kota Indeks Harga Konsumen (IHK). Sementara 23 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tanjungpandan sebesar 1,2 persen dan terendah di Tanjungpinang, Bogor, dan Madiun sebesar 0,01 persen. Kemudian, deflasi tertinggi di Luwuk sebesar 0,39 persen dan terendah di Manado 0,01 persen.

Direktur Statistik Harga BPS Nurul Hasanuddin menambahkan, inflasi Mei 2020 ini menjadi paling rendah sejak Lebaran tahun 1978. Sebab biasanya edisi Hari Raya Idul FItri setiap tahunnya inflasi tinggi. “Inflasi Lebaran di Mei ini, terendah sejak 1978,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, inflasi pada Idul Fitri tahun lalu misalnya mencapai 0,55 persen. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan inflasi Idul Fitri tahun ini yang cuma 0,07 persen.

“Covid-19 dan banyak kejadian membuat pola inflasi pada Ramadan ini sangat jauh berbeda dibandingkan pada tahun sebelumnya,” ucapnya.

Sementara itu, Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan RI Eric Sugandi sebelumnya memperkirakan inflasi pada bulan Mei 2020 berkisal di posisi level 0,08 persen secara bilanan (month on month/mtm) atau 2,21 persen secara tahunan (year on year/yoy).

“Berdasarkan perkiraaan mencermati kondisi saat ini, inflasi pada Ramadan tahun ini lebih rendah ketimbang pada tahun-tahun sebelumya. Hal ini karena menurunya daya beli masyarakat,” katanya.

Inflasi Mei juga disebabkan melemahnya nilai tukar Rupiah pada periode April-Mei 2020 akibat ketidakpastian global akibat Covid-19. (din/fin)


Komentar

Rekomendasi