Tidak mudah perjuangan Nasrial dalam menimbah ilmu. Keterbatasan biaya membuat dirinya harus berpikir keras untuk melanjutkan pendidikan. Berkali-kali tak lulus tes pun tidak menyurutkan niatnya untuk kuliah.
ENDANG PUJI LESTARI
HARI masih sore saat harian ini berkunjung ke sebuah rumah kecil yang berada di tengah-tengah lahan ternak milik Fakultas Peternakan Universitas Jambi yang terletak di Mendalo Darat. Di sebuah kandang milik Fakultas Peternakan Unja ini lah tinggal seorang mahasiswa Peternakan Unja. Namanya Nasrial, Mahasiswa kelahiran Sijenjang Padang 06 November 1994 menghabiskan hari-harinya disana. Dua tahun sudah ia tinggal di kandang praktek mahasiswa itu.
Anak kedua dari empat bersaudara ini memiliki semangat pantang menyerah demi menempuh pendidikan. Bahkan, sangat tak mudah baginya dan penuh dengan tantangan. Berkali-kali tak lulus tes pun tidak menyurutkan niatnya untuk kuliah. Jika berkaca dari keadaan ekonomi, Nasrial rasanya takut kalau suatu hari ekonomi menghambat kuliahnya. Akan tetapi, berkat keyakinannya pada yang Maha Kuasa, segala itu berhasil ia lalui.
Lulus di Fakultas Peternakan Unja baginya adalah kesempatan yang sangat besar untuk merubah nasib. Bermodalkan surat kelulusan tersebut ia pun merantau ke Jambi. Dalam bayangannya, terbesit rasa takut, jangankan untuk nasibnya ke depan, bahkan, dengan Jambi pun ia sama sekali belum tahu. Belum lagi kedua orang tua dan kakaknya kurang mengizinkan karena lokasi Jambi yang jauh.
Kalau Bapak setuju, tetapi Ibu dan Abang yang agak berat. Malah, Abang Saya bersedia membiayai kuliah Saya kalau mau menetap saja dan kuliah di swasta. Tapi, Saya tidak mau merepotkan keluarga, ini kesempatan untuk Saya kuliah, kenangnya.
Menjalani hari-hari sebagai mahasiswa di awal kuliah, sangat tidak mudah baginya. Terlebih lagi, dalam mencari tempat tinggal. Tidak ada sanak saudara di Jambi membuatnya harus bergegas mencari tempat tinggal. Ia pun sempat luntang lantung tak ada tempat tinggal. Ini pula lah yang membuatnya sempat putus asa dan berniat kembali ke kampung dan tidak lagi kuliah.
Tempat tinggal susah nyarinya. Kalau pun ada harganya mahal. Apalagi dari kampung cuma bawa uang untuk keperluan kuliah. Sempat juga ingin berhenti dan pulang lagi, malah sudah telpon orang tua. Tetapi, orang tua menyuruh untuk sabar, lanjutnya.
Meski mendapatkan tempat tinggal di kos-kosan, ia merasa tidak cocok dengan teman satu kos. Ia pun diajak tinggal di sebuah masjid milik Unja. Hidup pas-pasan membuatnya tak surut, ia tetap semangat menjalani hari-hari di Unja.
Dikarenakan ada konflik tersendiri, Nasrial kembali tidak betah tinggal di masjid. Dia pun memberanikan diri untuk mendatangi seorang dosen pengelola area peternakan.di Unja. Ia meminta tolong kepada Bapak Dr. Yatno, SPt. MP yang akrab disapa Pak Yatno agar diberi tempat tinggal sementara.
Mungkin memang Tuhan telah menunjukkan jalannya akhirnya ia mendapatkan tempat tinggal sederhana yang merupakan bekas kandang untuk praktek mahasiswa. Dengan keadaan yang ada, ia tidak mempermasalahkannya. Bahkan, ia sangat bersyukur karena yang terpenting adalah ia bisa kuliah.
Alhamdulillah diperbolehkan tinggal, saya pun ikut bantu-bantu di lahan itu mengambil rumput dan lain-lain, ungkapnya.
Mahasiswa Unja ini sangat aktif di organisasi, seperti organisasi rohani Islam (ROHIS), Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) serta Ikatan Mahasiswa Minang (IKMM). Berbagai prestasi pun ia raih. IPK yang diperolehnya rata-rata camloud yakni 3,44 dengan nilai rata-rata A. Di bidang organisasi, ia bahkan pernah menjadi ketua IKMM.
Berada di lahan pertanian dimanfaatkannya untuk memperdalam ilmunya. Sembari memberi makan ternak yang ada, ia mempraktekkan materi yang dipelajarinya di kampus. Bekerja setiap hari, walau badan letih tetap semangat demi masa depan, tandasnya. (***)
