JAMBIUPDATE.CO, JAMBI - Kenaikan biaya pendidikan rata - rata pertahun di Indonesia menjadi perhatian pimpinan Komisi X DPR RI Sutan Adil Hendra (SAH).
Berbicara di Gedung parlemen Jakarta (11/4) anggota fraksi partai Gerindra tersebut mengatakan pertahun Inflasi pendidikan mencapai 6 - 20 persen.
" Kenaikan biaya sekolah ataupun masuk sekolah mencapai 6 - 20 persen pertahun, yang terbesar pada kegiatan SPP, biaya pendaftaran, daftar ulang, ektra kurikuler dan sejumlah biaya lain. "
Menurutnya kondisi terjadi dikarenakan berbagai faktor di antaranya inflasi umum berupa kenaikan harga barang dan kebutuhan, ini juga memicu kenaikan biaya pendidikan.
Selanjutnya faktor keinginan masyarakat untuk memperoleh pendidikan bermutu dan peningkatan standar dari sekolah - sekolah juga menjadi pemicu kenaikan inflasi sektor ini.
Hanya saja SAH legislastor yang dikenal konsen dengan issu pendidikan ini mengatakan inflasi ini memicu terjadinya disparitas pendidikan antara yang kaya dengan masyarakat miskin.
" Inflasi ini di Indonesia telah melahirkan jurang pendidikan, sekolah bermutu yang mahal hanya bisa akses orang kaya, sedangkan yang miskin makin terpinggirkan bahkan harus putus sekolah. "
Untuk itu SAH mengharapkan pemerintah dan berbagai pihak segera mencari solusi berupa pendekatan agar indeks biaya pendidikan tidak terlalu tinggi.
Dari DPR sendiri SAH mengatakan berupaya merumuskan regulasi tentang pembiayaan pendidikan di semua jenjang, khususnya di kegiatan yang selama ini cukup tinggi kenaikannya.
" Kita ingin ada regulasi yang membatasi biaya pada kegiatan yang sering mengalami kenaikan seperti pada SPP, biaya pendaftaran, daftar ulang dan ekstra kurikuler, pungkasnya. "(*/wan)
