JAMBIUPDATE.CO, JAMBI - Tingginya kesenjangan di Indonesia antara si kaya dan si miskin membutuhkan program yang bisa menstimulan pemerataan akses masyarakat ke bidang pendidikan.
Hal ini disampaikan pimpinan Komisi X DPR RI Sutan Adil Hendra (SAH) ketika menceritakan laporan Pemantauan Pendidikan Global atau Global Education Monitoring (GEM) Unesco 2016.
Menurut SAH dalam laporan tersebut hanya ada 2 negara yakni Khazakstan dan Ukraina dari 90 negara berpenghasilan rendah yang anak usia sekolahnya dapat mengakses pendidikan ke jenjang SMU dan perguruan tinggi.
" Jenjang SMU dan PT hanya dapat di akses anak dari kelompok ekonomi atas, dalam kurun waktu 5 tahun gejala di Indonesia akses masyarakat dalam melanjutan pendidikan makin melebar. "
Kondisi ini menurut SAH dapat dilihat dari hasil penelitian Unesco 2016 di Indonesia yang menyatakan 92 persen sekolah unggulan dan Favorite baik negeri maupun swasta hanya di askes masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas.
" Artinya sekolah yang bermutu hanya dinikmati orang kaya lalu mau kita apakan anak - anak yang kurang mampu jika tidak dibantu melalui program beasiswa dan alokasi khusus siswa miskin, jelas SAH. "
Berkaca dari kondisi ini pengamat pendidikan Amirullah, S.Pd, M.Ed, PH.d dari Universitas Negeri Jakarta mengapresiasi upaya anggota DPR dari Jambi memperjuangkan beasiswa PIP bagi pelajar di Indonesia.
" Beasiswa PIP yang diperjuangkan SAH merupakan upaya parsial yang tepat dalam mengurangi kesenjangan pendidikan di provinsi Jambi . "
Karena menurut Doktor manajemen pendidikan dari Australia tersebut salah satu penyebab dominan kesenjangan akses pendidikan di daerah masih berkutat masalah pembiayaan siswa dalam kegiatan belajar mengajar mereka.
Hanya saja ia menyarankan ada pendampingan dari sekolah agar siswa bisa mengunakan dana ini secara optimal.
" Seperti jika dana ini dibelikan pulsa, setidaknya juga diarahkan bagaimana mereka bisa secara kontinyu mengakses buku - buku gratis via internet."
Sehingga dengan beasiswa ini pendanaan yang sifatnya variabel cost pendidikan bisa tercover, karena biaya yang seperti ini yang sulit dipenuhi oleh siswa yang tak berpunya, pungkasnya.(*/wan)
