Gubernur Provinsi Jambi Zumi Zola berang. Menendang tong sampah ketika mendapati layanan kesehatan yang buruk terhadap warga miskin. Aktor film itu marah karena petugas kesehatan di RSUD Raden Mattaher Jambi, masih pilih kasih untuk melayani. Ini bukan cerita baru.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo juga pernah disorot kamera sedang murka di timbangan truk. Karena petugas pelayanan masih terus melakukan pungutan liar kepada sopir truk, walau sudah diperingatkan berkali-kali.
Gubernur mana lagi yang berani serupa ini? Membiarkan, diam dan tak peduli atau terus tegak di depan membuat perubahan? Memang selalu ada pandangan sinis. Mengganggap hal-hal serupa ini sebagai akting. Cari popularitas. Biar jadi bahan berita. Tapi tunggu dulu, tidak mudah menjadi news maker. Awak media bukan orang yang mudah tertipu, catat itu. Zumi Zola sudah terkenal sejak dulu, buat apa untuk cari popularitas?
Ia memang belum genap satu tahun duduk di kursi gubernur. Tetapi sudah harus melunaskan janji-janji kampanye. Janji-janji itu harus mendobrak kemapanan raja-raja kecil di bawahnya.
Pada sisi lain, awak media itu bekerja selalu punya cara strategis. Misal, selalustand by di posko yang telah ditentukan, termasuk di UGD sebuah rumah sakit. Selain itu, di Mapolda, Mapolres, serta kantong-kantong sumber berita lainnya. Jadi, menganggap sepele gebrakan Zumi sebagai pencitraan adalah sikap sinis yang tak elok sama sekali. Juga tidak beralasan kuat.
Bagi pemimpin yang sadar atas tugas berat untuk memastikan seluruh sistem pelayanan publik berjalan baik, memang harus bekerja keras. Karena begitu berkarat dan kumuhnya pelayanan publik di tingkat provinsi juga kabupaten. Memang tidak semua, namun ini jamak terjadi. Masyarakat saja tak mau melaporkan karena malas berurusan lebih dari itu. Paling kuat, mereka hanya mengeluh di media sosial.
Pemimpin yang sadar, ia akan ditulis dengan tinta emas atau dengan tinta hitam dalam sejarah kepemimpinannya, akan terus membuat pola perubahan secara cepat. Mencari strategi dan kreativitas agar masyarakat puas atas kepemimpinannya. Mendapat catatan dengan tinta hitam sejarah adalah bencana bagi seorang pemimpin.
Tetapi memang, setiap pemimpin ada model kepemimpinan. Ada yang tak butuh sorotan, yang penting bekerja saja. Lihatlah, Gubernur NTB, Dr. TGH.Muhammad Zainul Majdi tidur bermalam-malam di lokasi banjir, di Bima. Tuan Guru Zainul, demikian ia akrab disapa, merasakan denyut napas terjangan banjir dua kali dalam seminggu itu. Ia bekerja saja sehingga Lombok kian berkibar di dunia pariwisata hingga menyamakan Wisata Pulau Dewata.
Memang menjadi seorang pemimpin itu berat. Harus berjibaku bersama barisan yang loyal untuk merubah keadaan. Kalau tak ada barisan, sendiripun jadi.
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini dengan semangat tiada henti menutup lokalisasi pelacuran Gang Dolly. Pada banyak kasus, ia berani turun sendiri, diam-diam, lalu mengambil keputusan setelah pulang dari lapangan. Dia pemimpin perempuan yang kuat membawa perubahan Kota Surabaya. Selalu hadir tidak terlambat dalam setiap persoalan yang dihadapi warga kotanya. Termasuk macet.
Lain lagi cerita Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, yang menjadikan media sosial sebagai sarana komunikasi dengan warga Bandung. Ada laporan, langsung sampaikan, langsung diselesaikan. Cepat dan tangkas, hingga membuat warga puas. Di tangannya, Bandung menjadi kota yang terus berbenah. Kenyamanan, keamanan, juga ketertiban.
Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, Ridwan Kamil, TGH. Muhammad Zainul Majdi, menyusul Zumi Zola, adalah sosok pemimpin yang mencoba mendobrak kemapanan. Ada beberapa yang lain, yang belum disorot kamera, tetapi ada juga terkesan dipaksa-paksakan agar disorot media Jakarta.Soal Zumi
Tanggal 12 Februari 2017 nanti, Zumi Zola genap satu tahun sebagai Gubernur Provinsi Jambi. Anak mantan gubernur dua periode, Zulkifli Nurdin ini sedang mencoba untuk membuat perubahan sikap dan mental pejabat di Provinsi Jambi.
Mantan Bupati Tanjab Timur itu sudah gerah menerima laporan buruknya pelayanan kesehatan. Agar ada fakta, sebelum membuat keputusan, ia harus turun langsung, mendengar dan memahami masalah. Di mana-mana, soal layanan publik di berbagai lembaga pemerintahan, sering tidak memuaskan. Malahan kadang-kadang jauh di bawah standar layanan yang sering disebut pejabat ketika berpidato. Butuh perhatian serius dan evaluasi agar ada perubahan. Karena arogansi petugas, apalagi di bidang kesehatan sering bukannya memberi pertolongan tetapi sebaliknya. Mereka yang sakit dibawa ke rumah sakit, justru lebih cepat wafatnya, seloroh teman saya.
Apa yang dilakukan Zumi, harus diapresiasi sebagai tindakan untuk mendobrak keangkuhan petugas yang merasa selalu lebih tinggi dari publik yang harus mereka layani. Sikap mental yang sombong, angkuh, cerewet, harus diubah.
Sudah rahasia umum, kesadaran melayani aparatur pemerintahan sangat rendah kepada publik. Mereka menganggap dirinya yang mesti dilayani. Melayani masyarakat, seperti jatuh wibawa seragam mereka. Belum lagi soal pungutan liar, kalau ingin cepat, bayar. Sudah lama, birokrasi rusak karena uang. Kalau tidak ada uang, ogah-ogahan dan bermuka masam. Boleh cek.
Banyak cerita pengalaman mengurus surat menyurat, KTP, di kantor-kantor kelurahan hingga kecamatan. Ini sebenarnya ulah oknum, ulah dari aparatur tidak diberi secara terus menerus tentang kesadaran peran sebagai aparatur pelayanan masyarakat.
Tendangan Zumi Zola tidak begitu menyentak namun ini perlu, agar ada perbaikan. Karena watak birokrasi yang tidak pernah dikontrol selalu merasa berkuasa. Apalagi kalau sedari awal rekrutmen, sudah bermasalah pula. Masuk jadi PNS melalui pungli, bukan panggilan pengabdian
Sikap mental dari pelayan yang bermasalah ini harus bisa dikoreksi secara rutin. Tidaklah mungkin selalu dengan cara inpeksi mendadak (Sidak). Harus ada sistem yang bisa mengukur sehingga pelayan-pelayan tidak cakap harus diparkirkan dulu. Bukankah itu sudah ada, tetapi tentu tidak jalan secara efektif, bila masih sesama aparatur yang melakukannya.
Perubahan di lembaga pemerintahan, tiada cara lain, selain mencari pemimpin yang benar-benar sadar akan tugas dan pengabdiannya untuk kepuasan masyarakat. Jika akhirnya memiliki effect menjadi prestasi dan apresiasi politik, tentunya bukan tujuan utama. Hanya bonus, sebagaimana layaknya seorang pemimpin disanjung dan dipuja atas kepemimpinannya. Zumi, teruskan bro! []
Oleh : ABDULLAH KHUSAIRI
Mahasiswa Program Doktor
Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah
Ciputat Jakarta
