iklan Illustrasi
Illustrasi

JAMBIUPDATE.COM, MUARABULIAN - Petani karet di Kabupaten Batanghari, kian hari kian menjerit. Pasalnya selain harga karet yang tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga kadar air di batang karet ikut menyusut.

Hal tersebut seperti diakui Saleh AR, Warga Tembesi. Dikatakannya, kondisi petani karet maupun petani sawit sangat memprihatinkan. Akibat emarau yang cukup lama ini membuat pendapatan petani karet jauh berkurang dari biasanya.

"Musim panas kadar karet juga menyusut, yang dulunya perhari bisa mencapai Rp16 kilogram perhari. Tapi sekarang tinggal sekitar 8 kilogram hasil karet." Sebut warga Tembesi itu.

Kurangnya pendapatan hasil petani tersebut selain dari cuaca yang panas juga faktor anjloknya harga karet yang jauh dari standar. Sementara harga kebutuhan pokok tidak ada penurunan, bahkan sebagian ada yang naik.

"Bukan hanya panas saja. Harga karet yang hampir setiap minggu mengalami penurunan juga sangat mengurangi penghasilan kita. Dari harga Rp7500 perkilogram kini tinggal Rp6000 perkilogram. Sedang bahan pokok sebagian ada yang naik harganya." Keluhan Saleh AR.

(adi)


Berita Terkait



add images