Walikota Jambi H SY Fasha menerima Tanda Lulus dari Gubernur IPDN

Walikota Jambi DR H Syarif Fasha ME Berbagi Kiat Selesaikan S3 di IPDN

Posted on 2017-09-05 02:00:41 dibaca 4051 kali

WALIKOTA Jambi H Syarif Fasha, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Pemerintahan dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)kemarin (4/9). Istimewanya, Fasha lulus dengan nilai prestisius 3,80 (Summa Cum Laude). Bagaimana kiat-kiat orang nomor satu di Kota Jambi itu dalam menempuh pendidikan di kampus pencetak para praja itu? Berikut wawancara ekslusif wartawan Jambi Ekspres dengan suami tercinta dari Hj Yuliana Fasha itu.

Selamat, Bapak akhirnya menyelesaikan studi S3 Ilmu Pemerintahan di IPDN, tanggapan bapak?

Saya bersyukur Kepada Allah Swt atas selesainya program perkuliahan ini  yang cukup menyita waktu, pikiran dan  tenaga, di mana saya juga harus menjalankan tanggung jawa dan amanah selaku walikota jambi.

Bapak resmi menyandang gelar doktor Ilmu Pemerintahan dari IPDN. Tidak semua kepala daerah bisa menyandang gelar tersebut. Ke depannya, apa yang akan bapak lakukan di Kota Jambi, terutama dalam hal menjalankan roda pemerintahan dan penataan aparatur?

Tentunya dengan peningkatan pendidikan akademis yang saya dapati, seharusnya ada peningkatan lebih dalam hal kepemimpinan di pemerintahan saat ini, termasuk peningkatan dan penataan ASN Kota Jambi. Sebenarnya, yang  saya lakukan di awal kepemimpinan saya adalah menerapkan sebuah konsep pemerintahan yang baru dan agak berbeda dengan  sebelumnya dan di daerah lain.

Latar belakang saya sebelumnya adalah bukan dari kalangan birokrat namun dari entrepreneur (wiraswasta). Saya mengkombinasikan Kepemimpinan Birokrat dan Kepemimpinan Entrepreneur dengan pola mengedepankan pelayanan publik dan menjadikan masyarakat sebagai subjek pembangunan bukan objek pembangunan lagi dengan  cara mengajak masyarakat terlibat langsung dalam pembangunan.

Dari sisi  culture, dahulu masyarakat kita sangat sulit untuk dilibatkan karena culture sebuah ibu kota provinsi sangat melekat di masyarakat Kota Jambi. Namun hal tersebut saya siasati dengan  merubah pola kerja ASN yang  tadinya birokrat tulen menjadi Entrepreneur Birokrasi.

Bagaimana caranya?  1. Saya memberikan jaminan kepada pejabat kami, bahwa saya tidak akan meresufle. 2. Saya berikan tunjangan penghasilan   yang sebelumnya tidak ada. 3. Saya berikan kewenangan lebih kepada para pejabat sesuai Tupoksinya dan tidak perlu harus minta petunjuk (cukup melaporkan). 4. Rewards & Punishment saya terapkan. 5. Staf ahli saya berdayakan maksimal.

Selain itu, seluruh ASN saya rangkul , minimal 1 bulan sekali saya harus bertatap muka dengan  semua ASN melalui media Apel peningkatan disiplin (Senin awal bulan). Saat apel itulah  saya lakukan evaluasi terhadap kinerja masing-masing SKPD. Setelah apel biasanya kami ngobrol dan diskusi bersama semua pejabat eselon 2 dan 3. Di saat itulah saya banyak mendapat info terkait kebijakan dan  program yang sedang berjalan.

Kedepannya tugas saya adalah mengawal dan menjaga agar roda pemerintahan dan mental ASN kami bertambah baik minimal sama seperti saat ini dan untuk mewujudkan hal tersebut, Saya sudah menyiapkan skenario kedepannya.

Di tengah kesibukan bapak membangun Kota Jambi dalam segala bidang, menata wajah Kota, membangun smart city, dan berbagai sarana infrastruktur lainnya, hingga pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sekarang ini sudah terbukti di Kota Jambi. Belum lagi membagi waktu untuk keperluan pribadi dan juga urusan keluarga yang tidak bisa dikesampingkan,  bapak masih bisa menyisihkan waktu untuk kuliah S3 di IPDN. Ini suatu hal yang luar biasa dan cukup membanggakan. Bagaimana kiat bapak membagi waktu sehingga tugas sebagai kepala daerah dan tugas sebagai mahasiswa tidak ada yang terabaikan?
Saya mengambil program doktoral ini berawal saat saya mengkuti Orientasi Kepemimpinan Para Pimpinan Daerah (OKPPD ) yang diselenggarakan akhir bulan February 2014 selama 3 Minggu di Badiklat Kemendagri Kalibata. Kebetulan saat itu para profesor  yang menjadi nara sumber berasal dari IPDN dan saat itu IPDN  membuka Program Doktoral yang sudah berjalan 1 angkatan perkuliahannya.

Kemudian saya konsultasi dengan  para dosen dan Direktur Pasca-nya (Pasca Sarjana, red) dan dengan Bismillah saya langsung mendaftar kan diri untuk ikut program tersebut. Setelah saya mengurus semua administrasi doktoral, saya mengikuti test sebagai prasyarat bisa atau tidak mengikuti perkuliahan program tersebut.

Pada saat itu sudah ada angkatan I yang sedang persiapan ujian tertutup, antara lain  Bapak  Gamawan Fauzi (Mendagri saat itu), Ibu Diah Anggraini (Sekjen Kemendagri)  dan beberapa Dirjen. Setelah selesai pendidikan OKPPD saya langsung mengikuti test dan setelah menunggu beberapa Minggu saya dinyatakan lulus menjadi calon mahasiswa program Doktoral Ilmu Pemerintahan.

Kemudian saya ngobrol lagi dengan istri  terkait rencana kuliah saya dan  Alhamdulillah istri dan anak-anak saya mendukung hal tersebut. Saya mengikuti perkuliahan matrikulasi : Sabtu - Minggu di kampus Cilandak ( IIP ) dan kampus Jatinangor ( IPDN ). Saya jalani hal ini lebih dari 6 bulan rutin.

Menginjak 1 tahun perkuliahan, saya mulai mengikuti seminar-seminar terkait materi perkuliahan. Saya selalu menyempatkan diri mampir ke kampus pada saaat saya sedang dinas luar kota yg nota bene semua transit di jakarta. Banyak kegiatan kedinasan luar yang saya jalani turut membantu proses perkuliahan saya.  1 tahun pertama waktu libur (Sabtu-Minggu) saya tidak kumpul dengan  keluarga, tapi hari kerja  Senin - Jumat waktu saya berkumpul dengan keluarga (ha..ha..ha terbalik dengang pejabat lainnya).

Di tahun ke dua perkuliahan, kami melaksanakan perkuliahan di Utrech University (Amsterdam, Belanda selama lebih kurang 10 hari) setelah itu baru lah kami memulai mengajukan proposal penelitian dan perkuliahan pun sudah tidak lagi harus rutin Sabtu-Minggu di Cilandak atau  Jatinangor.

Memasuki akhir 2015 saya sudah memulai melakukan penelitian-penelitian yang objeknya ada Pemerintah Kota Jambi. Begitulah seterusnya sampai deengan saya memulai menulis disertasi dan saya dibantu oleh asisten penelitian yg sudah ditunjuk dan disetujui oleh Kampus.

Alhamdulillah, selama proses perkuliahan- penyelesaian tidak sedikitpun menggangu kewajiban dan tanggung jawab saya sebagai kepala daerah dan kepala keluarga, semua berjalan normal dan enjoy menurut saya.

 

Kuliah program doktoral (S3) tidak gampang, apalagi di kampus sekelas IPDN, butuh waktu dan tentunya harus fokus. Menurut bapak, sejauh apa manfaatnya dalam konteks membangun Kota Jambi?

Saya bersyukur dan bangga  bahwa saya bisa mengikuti  dan menyelesaikan perkuliahan di IPDN yang dulunya adalah APDN -STPDN  dan  bertransformasi  menjadi IPDN. Pada awal saya memutuskan untuk kuliah kembali, sebetulnya ada kontradiksi dalam bathin saya : Untuk apa saya kuliah lagi mengambil S3? Posisi saya sudah sebagai walikota dan saya tidak perlu mengurus kenaikan pangkat / eselon. Namun ada sesuatu hal dalam diri saya yang selalu ingin mencoba yang baru sesuai profesi saya. Contohnya, pertama kali saya kuliah mengambil jurusan Teknik Sipil di Poltek Unsri Palembang, setelah itu saya bekerja di Konsultan Teknik selama 8 tahun.

Setelah saya membangun bisnis kontruksi dan saya memiliki perusahaan, maka saya mengambil kuliah S1 Jurusan Management karena  saya ingin belajar banyak tentang ilmu management. Setelah saya eksis  dan menjadi besar, saya tertarik dengan  tulisan-tulisan para pengamat ekonomi yang setiap hari mereka  mengulas berita di media elektronik dan media cetak tentang kondisi Ekonomi Indonesia. Saya bertanya dengan  rekan para dosen ekonomi, sekolah jurusan apa yang  diambil oleh para pakar ekonomi tersebut. Akhirnya saya melanjutkan kuliah S2 dg jurusan Magister Ekonomi Pembangunan.

Setelah saya berkecimpung di pemerintahan , saya tertarik untuk belajar dan  mendalami Ilmu pemerintahan dan saya memutuskan untuk kuliah S3 tentang Ilmu Pemerintahan. Saya memilih IPDN karena Civitas Academika serta para dosen pengajarnya adalah ahli-ahli yang  sangat mumpuni di bidangnya dan punya nama besar di Indonesia ini. Saya selalu serius dalam belajar atau pun melaksanakan pekerjaan apapun. Diawal saya memimpin kota jambi, saya sudah mencoba menerapkan management Birokrasi Wirausaha (Entrepreneur Birokrasi) yang selama ini pola memimpin saya adalah pola kewirausahaan (dunia swasta ).

Di Awal kepemimpinan memang saya akui bahwa banyak pejabat - staf ASN Pemkot Jambi yang harus terbirit-terbirit mengikuti gerakan saya, yang saya sebut berlari bukan berjalan. Setiap upaya ASN yang membuahkan keberhasilan, selalu saya hargai dengan rewards namun apabila target tidak tercapai karena kelalaian atau kesengajaan ASN, maka akan mendapatkan punishment (sangsi).

Kesejahteraan ASN saya perhatikan dengan memberikan TKD dan TBK serta yang lainnya. Saya tuntut pejabat saya bekerja 25 jam dalam sehari ( 24 jam ) berarti mereka harus stand by selama 24 jam apabila ada perintah saya mendadak.

Pemkot Jambi ibarat sebuah kapal yang sangat besar dengan jumlah ASN lebih kurang hampir 6.882 orang dan jumlah tenaga honorer sebanyak lebih kurang 4.978 orang.  Kapal ini harus dinakhodai dengan  Management dan Sistem  yang  kuat  dan benar. Kalau lemah maka kapal tersebut akan menjadi karam dan salah arah tujuannya. Sambil memimpin kapal tersebut, saya sambil belajar langsung dan tidak segan-segan bertanya kepada siapapun yang saya anggap bisa diadopsi stylenya. Setelah saya memulai melakukan penelitian dan penulisan disertasi, barulah saya faham, ternyata yang  saya lakukan pola kepemimpinan saya, adalah pola yang terbaru dengan sebutan New Public Service yang selama ini belum banyak dilakukan di pemerintahan daerah. Pemerintah Daerah lainnya  baru menggunakan sistem New Public Management, malah masih ada yg menggunakan sistem birokrasi klasik. Yang menariknya dalam penerapan Sistem management yang  saya gunakan selama di pemerintahan ini, ada satu buku yg sangat mirip dengan  Pola yang saya terapkan, yakni : ASOCA (Ability, Strength, Opportunities, Culture, Agility) yang ditulis oleh tokoh terkenal yakni Bapak Prof. DR. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS (Gubernur IPDN saat ini dan  Mantan Gubernur Lemhannas RI ). Dan buku tersebut menjadi salah satu Pedoman Penelitian dan Penulisan Disertasi saya. Manfaat Pola management pemerintahan yang saya terapkan selama ini, dapat dilihat dalam keseharian dan hasil pembangunan yang dirasakan masyarakat sekarang. Bagaimana kondisi ASN Pemkot Jambi saat Ini, saya sangat bersyukur bahwa kapal besar Ini sudah berada di wilayah pelabuhan yang  dituju. Hanya tinggal menambatkan kapal ini dan membongkar sauh dan isinya.



Bapak terjun secara langsung dalam praktek ilmu pemerintahan secara nyata sebagai walikota Jambi yang tentunya sudah memiliki bekal teori-teori ilmu pemerintahan yang baik. Saran bapak untuk para ASN dalam melayani masyarakat?
Saran saya kepada ASN (tidak hanya Pemkot Jambi), menjadi ASN adalah pilihan hidup kita, bukan profesi iseng ataupun tidak sengaja.  Banyak elemen masyarakat yang menginginkan untuk menjadi ASN namun hanya sedikit yg bisa berkarier menjadi ASN, termasuk Anda. Anda adalah orang-orang yang terpilih dan dipercaya menjalankan amanah untuk melayani masyarakat. Maka untuk itu, renungkanlah tujuan hidup kita yang sesungguhnya untuk apa? Apakah hanya mencari popularitas ataupun hanya melaksanakan  perintah orang tua saja ? Kita semua sependapat bahwa apa yang kita lakukan dalam keseharian kita dapat bermanfaat  bagi masyarakat kita namun dalam rutinitas keseharian kita kadangkala kita lupa dengan hal tersebut. Untuk Itu, Saya mengajak semua ASN, agar kiranya merenung kembali dengan apa yang sudah kita dapatkan dan laksanakanselama ini, Apakah sudah sejalan dengan keinginan masyarakat? Hal tersebut hanya kitalah yang  bisa jujur Menjawabnya.

Menurut bapak, hal apa yang terpenting dalam merubah mindset ASN agar sesuai dg keinginan masyarakat?

Pertama kali saya menilai kondisi ASN kami dalam kondisi tidur lelap. Saya melaksanakan survey dengan beberapa item, yakni: 1. Kepuasan masyarakat terhadap Kinerja pemerintah dan pembangunan. 2.  Kebanggaan masyarakat Kota Jambi sebagai warga Kota Jambi. Survey saya lakukan di bulan Desember  2013 (awal pemerintahan kami), hasilnya sama seperti prediksi saya yakni : 1. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan dan pembangunan adalah sebesar 30 % . 2. Tingkat kebanggaan warga, mengakui dirinya sebagai warga Kota Jambi hanya 27 %.

Ironis sekali, terhadap capaian saat itu. Namun denagn  hasil survey tersebutlah saya menjadi tahu pekerjaan saya harus dimulai dari mana (Starting point). Saya selalu menekankan kepada ASN Pemkot Jambi agar melaksanakan kewajiban dan amanah harus diniatkan dengan iklhas. Dan puluhan kali saya menyampaikan pada kesempatan apel atau upacara, "Untuk meminta jabatan, tidak perlu dengan  meloby Tim Sukses, keluarga, saudara, orang tua, mertua, sekalipun istri (ibu walikota, red)  saya,  karena hal tersebut tidak ada gunanya dengan saya . Bekerjalah dengan  baik dan benar, Insya Allah saya akan menilainya. Meskipun mata dan telinga saya hanya dua, namun saya punya mata dan telinga dimana-mana  untuk menilai kinerja Anda.

Alhamdulillah berkat kecerewetan saya selama ini, ternyata membawa perubahan yg sangat cepat terhadap mental para ASN kami yang berubah lebih baik dari sebelumnya.

Setelah memimpin beberapa tahun, setiap tahun saya selalu fokus untuk menyelesaikan apa yang menjadi persoalan kita di Kota Jambi ini.  Saya menerapkan kebijakan Pembangunan dengan kebijakan OUT WORD LOOKING POLECY bukan dengan IN WORD LOOKING POLECY,  yakni  Kebijakan pembangunan yang melihat keluar dan menjadikan kota lain menjadi  pembanding denganmembangun prasarana yang ada pada kota lain dan tidak ada pada kota kita namun kita sangat membutuhkannnya (phisik).  Selama ini banyak pemimpin yg menerapkan kebijakan in word yakni memimpin dengan angka-angka saja,  contoh nya angka kemiskinan dahulu sekian , saat ini sudah sekian, angka pengangguran dahulu  sekian dan saat ini sekian. Pertumbuhan ekonomi dahulu sekian dan saat ini sekian. Padahal yang namanya angka-angka masih bisa didebat table, tidak dengan fisik yang kelihatan nyata dan langsung dirasakan masyatakat.

Setelah berjalan lebih dari 3 tahun kami memimpin Kota Jambi, d ibulan Juni 2017 yang lalu kami melaksanakan survey kembali setelah HUT KOTA Jambi,  dan hasilnya: 1. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah dan pembangunan di Kota Jambi sudah mencapai angka 86, 7 % serta tingkat kebanggaan masyarakat mengakui dirinya sebagai warga Kota Jambi diangka 97 %. Angka ini sangat tinggi setelah Kepemimpinan kami baru 3 tahun 6 bulan.

Saat ini, kami sudah masuk ke tahap melaksanakan bonus pembangunan, karena yang menjadi target RPJMD (2013 - 2018)Alhamdulillan bisa kami capai memasuki tahun ke 4 yakni 2017 ini, sehingga di tahun ini juga kami sudah bisa membangun danmemperbaiki fasilitas pemerintah, antara lain, Kantor kecamatan, kantor kelurahan, Puskesmas, rumah sakit, Koramil, Polsek, Kantor Dinas, Sekolah dan Fasilitas umum lainnya.

Sekali lagi, selamat bapak, gelar doktor ini semoga bermanfaat untuk seluruh masyarakat Kota Jambi.

Amin…terima kasih. (hfz)

Copyright 2019 Jambiupdate.co

Alamat: Jl. Kapten Pattimura No.35, km 08 RT. 34, Kenali Besar, Alam Barajo, Kota Jambi, Jambi 36129

Telpon: 0741.668844 - 0823 8988 9896

E-Mail: jambiupdatecom@gmail.com