Fita Febiyola (Dua dari kanan) bersam Dubes RI untuk Hungaria beberapa waktu lalu.

Cerita Fita Febiyola, Mahasiswa asal Jambi yang Menjalankan Ibadah Puasa di Hungaria

Posted on 2018-05-30 08:36:24 dibaca 2637 kali

JAMBIUPDATE.CO - Berpuasa di negara dengan jumlah penduduk muslimnya yang minoritas tentu menghadirkan suasana berbeda. Inilah yang dialami oleh beberapa mahasiswa asal Jambi yang kini menempuh pendidikan di Benua Biru. Jangankan Pasar Beduk dan teriakan sahur, Adzan pun tak kedengaran

PIRMA SATRIA, JAMBI

SATU di antara beberapa mahasiswa Jambi yang kini sedang menempuh pendidikan di Eropa adalah Fita Febiyola. Dara cantik asal Kuamang Kuning, Bungo ini memilih studi di University of Pecs, Hungaria, jurusan Master of International Relations.

Tahun ini merupakan tahun terakhir Fita (Sapaan akrabnya, red) setelah hampir dua tahun berada di negara yang terkenal memiliki  guadan danau air panasterbesar kedua di dunia itu.

Menjalankan ibadah Ramadhan di negara dengan penduduk muslimnya yang minoritas ini tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Fita.

Mulai   dari  perbedaan   durasi  waktu berpuasa,   di mana   ia harus berpuasa selama 18 jam, suatu hal yang tentunya sangat tidak lazim ditemukan di Indonesia, khususnya di Jambi yang durasi puasanya berkisar antara 12-13 jam. Belum lagi soal sulitnya menemukan makanan atau bahan-bahan makanan khas Ramadhan yang kalau di Jambi sangat mudah ditemukan.

‘’Jadi disini saya selalu buka puasa dan sahur dengan menu apa adanya. Saya berusaha sekreatif mungkin

untuk   memasak makanan-makanan  Indonesia   meskipun  dengan   bahan  makanan   yang

sangat   terbatas,’’ kata alumni SMA Negeri 1Pelepat Ilir, Bungo itu kepada koran ini via surat elektroniknya.

Suasan Ramadhan yang paling tidak lazim dan kini ia rasakan di Budapest adalah tidak pernah terdengarnya suara adzan berkumandang layaknya di Indonesia. Saban waktu, sebagai penanda Sholat, Adzan selalu berkumandang, apa lagi di bulan Ramadhan. Juga tidak ada mesjid yang menyelenggarakan sholat taraweh seperti di Indonesia.

‘’Saya   juga   tidak bisa  menemukan pedagang makanan di pinggiran jalan ketika sore hari menjelang berbuka seperti yang ada di Indonesia. Saya betul-betul tidak bisa melihat dan merasakan suasana Ramadhan disini,’’ sebutnya.

Meskipun demikian, sambung gadis kelahiran Riau 23 Februari 1993 itu, tak adanya nuansa Ramadhan di Budapest tidak lantas menghilangkan semangatnya untuk tetap menjalankan salah satu syariat agama itu.

‘’Dan juga dibalik padatnya kegiatan kuliah dan durasi berpuasa yang sangat panjang, saya berusaha mengatur waktu yang saya miliki seefisien mungkin. Paling lama saya pulang dari kampus yaitu sekitar jam 1 siang, dan saya pergunakan waktu saya di siang hari untuk beristirahat. Sementara di sore hari saya menyiapkan makanan untuk berbuka puasa,’’ jelasnya.

Lalu, adakah tempat khusus berbuka, sahur dan taraweh untuk mahasiswa Indonesia? Menurut Fita, mahasiswa Indonesia di Hungaria bisa dibilang sangatlah sedikit. Tidak seperti di Eropa Barat yang jumlah mahasiswa Indonesianya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan.

‘’Di Hungaria, hanya berjumlah sekitar 70 orang saja. Itupun tersebar di banyak kota. Jadi masih belum ada tempat khusus untuk berbuka puasa, taraweh, tadarus, dan sahur bagi mahasiswa Indonesia. Mungkin hanya

sekali atau dua kali saja ketika kami mendapatkan undangan berbuka puasa bersama di KBRI di Budapest,’’ jawabnya.

Kepada koran ini, Fita juga sempat berbagi kisah tentang suasana perkuliahan di negara Eropa Tengah itu. Menurutnya, suasana perkuliahan di Hungaria sangatlah   asik   karena memiliki banyak teman-teman dari berbagai Negara dari seluruh benua  yang tentunya memiliki budaya dan bahasa yang beraneka  ragam.

Setiap   break   kuliah, sebutnya, selalu   saja  mendengar  percakapan teman-teman menggunakan bahasa mereka masing-masing. Bahkan, katanya, ia  juga sering meminta mereka untuk mengajarinya beberapa kata dari bahasa mereka.

‘’Di sini jugalah saya bisa bertukar pikiran bersama mereka, dari masalah kebudayaan, kehidupan politik,

pendidikan, traveling, dan banyak lagi. Suasana di dalam kelas juga sangat menarik dan selalu aktif. Kebanyakan dari mereka sangatlah aktif dalam berargumentasi, jadi secara  tidak langsung juga mengajarkan saya untuk selalu aktif di dalam kelas,’’ jelasnya.

Soal lingkungan di sekitar tempat tinggal, katanya, kebetulan ia tinggal di perumahan yang kebanyakan didiami oleh masyarakat lokal Hungaria. Dan

karena kebanyakan dari mereka berbicara menggunakan bahasa Hungaria (Magyar), tidak

menggunakan bahasa Inggris, jadi kehidupan sehari-hari Fita dikelilingi oleh mereka yang berbicara menggunakan bahasa Magyar.

‘’Hal yang menarik adalah kami berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh. Saat itulah mereka belajar mengenal bahasa Inggris, dan saya belajar mengenal bahasa mereka,’’ sebutnya.

Memasuki tahun akhir Studi S2-nya, Fita tentu memiliki pengalaman-pengalaman yang paling mengesankan selama studi  di Hungaria. Salah satu yang paling berkesan, katanya, yang pasti adalah pengalaman

memiliki banyak teman dari berbagai negara di dunia. Saling bertukar dan berbagi pengalaman dalam hal kebudayaan, saling mengenal bahasa satu sama lain, dan bisa memperkenalkan budaya-budaya juga makanan-makanan Indonesia kepada mereka.

‘’Selain itu ada rasa bangga yang muncul dari dalam diri saya ketika saya bisa menghadapi dan menyelesaikan sendiri tantangan-tantangan yang

muncul semenjak saya meninggalkan rumah dan menginjakkan kaki di tempat yang baru

dengan berjarak ribuan miles. Hal ini sangat membantu saya untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan lebih disiplin pastinya,’’ katanya.

Selama liburan kuliah (libur semester atau libur pergantian musim), Fita tidak lantas pulang ke Indonesia. Untuk menyalurkan hobby travelingnya, ia pergunakan untuk mengunjungi negara-negara Eropa lainnya seperti Belanda, Jerman, Paris, Itali, Swiss, Belgia dan beberapa negara lainnya. 

Tidak hanya sebatas hobby, traveling menjelajahi tempat-tempat bersejarah manfaatnya banyak. Antara lain menambah wawasan mengenai suatu tempat, mengenal orang baru beserta karakteristiknya, mempelajari  banyak budaya, mencicipi berbagai jenis makanan khas negara tersebut, dan masih banyak lagi.

‘’Selama saya berkeliling ke Negara Eropa lainnya, ada berbagai macam treatment yang saya terima dari masyarakatnya. Ada yang sangat ramah sekali dan juga

respect, ada yang orang-orangnya sangat sinis dan cuek, ada juga yang biasa-biasa saja,’’ jelasnya.

Fita mengalami sendiri bagaimana Islamphobia itu memang nyata adanya di Eropa, apalagi bagi dirinya yang berhijab. Ada sebagian dari mereka yang sangat tidak menyukai wanita muslim.

‘’Bisa terlihat dari bagaimana cara mereka memperlakukan saya misalnya ketika di airport, mall, swalayan, halte bus atau tempat-tempat umum lainnya. Mereka memperlakukan saya dengan cara yang berbeda dari perlakuan mereka terhadap orang lain. Namun pengalaman ini justru membuat saya semangat untuk menunjukkan kepada mereka bahwa wanita muslim itu tidak seperti yang mereka bayangkan, misalkan dengan selalu menyapa dan memberikan senyuman, serta menawarkan pertolongan ketika ada seseorang yang membutuhkan pertolongan. Dengan begitu, orang yang sebelumnya selalu memandang saya dengan tatapan sinis berubah seketika menjadi ramah dan selalu tersenyum,’’ jelasnya.

Traveling, katanya, juga mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah bagaimana menghargai Negara tumpah darah Indonesia. Mensyukuri apa yang dimiliki tanah air. Paslanya, tidak jarang ketika membandingkan Indonesia dengan Negara-negara yang dikunjungi, ada beberapa hal yang ternyata di Indonesia jauh lebih baik. Dari situlah Fita beranggapan bahwa terkadang Indonesia tidak selalu berada di bawah negara-negara lain yang bahkan lebih maju.

‘’Jadi kesimpulannya, traveling bukan hanya sekedar jalan-jalan atau mengunjungi tempat-tempat yang baru, namun juga salah satu  cara untuk menilai sesuatu dari berbagai jenis sudut pandang yang berbeda, membuat saya menjadi pribadi yang lebih mandiri, dan juga mengasah kemampuan berkomunikasi,’’ jelasnya.

‘’Setelah lulus study dan pulang ke Indonesia nantinya, yang pasti ingin sekali bisa berbagi cerita,   pengalaman,  ilmu   maupun   motivasi  kepada   teman-teman  dan   adik-adik   di Indonesia, khususnya di kota Jambi mengenai kuliah di luar negeri khususnya di Negara Mutiara Terindah di jantung Eropa tengah yaitu Negara Hungaria. Dan untuk rencana ke depan, saya ingin menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk merepresentasikan Negara Indonesia di Negara berdaulat lainnya atau suatu organisasi internasional,’’ pungkasnya. (*)

Copyright 2019 Jambiupdate.co

Alamat: Jl. Kapten Pattimura No.35, km 08 RT. 34, Kenali Besar, Alam Barajo, Kota Jambi, Jambi 36129

Telpon: 0741.668844 - 0823 8988 9896

E-Mail: jambiupdatecom@gmail.com