Para guru saat berada di salah satu ruangan praktikum Fisika di Helena College.
JAMBIUPDATE.CO, AUTRALIA- HELENA College, salah satu sekolah terbaik di Perth, Australia Barat, ternyata menjadi jujukan sejumlah pelajar dari luar Perth. Makanya sekolah yang berdiri pada tahun 1989 ini menggunakan dua kurikulum. Kurikulum Australia dan Kurikulum Internasional.
Wartawan Jambi Ekspres dan Jambi Update, Pirma Satria-M Ridwan, Perth
SIAPA yang tidak betah sekolah di sini. Selain mengajarkan tentang mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang ada, siswanya sepertinya juga dituntun untuk belajar pada alam.
Di tengah-tengah bangunan sekolah, atau di antara ruangan yang satu dengan yang lain, pohon-pohon besar sengaja dibiarkan tumbuh dengan gagahnya. Tak ditemukan sisa-sisa bekas penebangan. Artinya, pohon-pohon besar ini memang dibiarkan hidup dengan leluasa tanpa ada yang diusik.
Saking banyaknya, di beberapa tempat dalam areal sekolah, sinar matahari tidak leluasa menembus lebatnya dahan dan ranting pohon, jadilah suasana sejuk dan nyaman berbalut semilir angin menambah animo rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres untuk berlama-lama di sekolah ini.
"Kalau di Jambi, sudah sangat jarang kita temukan sekolah dengan nuansa alam seperti ini. Kalau pun ada, itu pun pohonnya tidak sebesar ini. Meski di sini sedang musim panas, tapi cuaca tetap sejuk," ujar Nur Asiah, salah satu Guru Favorit Jambi Ekspres yang juga Kepsek SMAN 2 Tanjab Timur saat diajak berkeliling di sekolah tersebut.
Bangunan sekolah semuanya berlantai 1. Berbeda dengan bangunan sekolah di Jambi, sekolah ini dibangun menggunakan bahan utama bata ekspose tanpa plesteran.
Ada belasan ruangan dalam sekolah tersebut. Semua ruangan mempunyai fungsi masing-masing. Di bagian paling depan, berfungsi sebagai kantor sedangkan di bagian belakang merupakan ruang belajar yang terpisah dari kantor.
Ada dua hall di sekolah itu. Satu hall untuk olahraga seperti badminton dan satu hall lagi merupakan lapangan basket. Di sudut lain, terdapat bangunan besar tanpa dinding. Ini digunakan untuk tempat siswa belajar berbagai alat musil dunia, termasuk gamelan dari Indonesia.
"Fasilitasnya lengkap ya. Kalau seandainya ada sekolah di Jambi seperi ini tentu akan sangat bagus bagi anak-anak didik," ujar Nopizon Nurta, guri favorit dari SMK PP Batanghari.
Salah seorang staf pengajar di sekolah tersebut, Jeremi mengatakan, sekolah ini merupakan sekolah swasta. Murid-muridnya tidak hanya dari Perth saja, akan tetapi juga ada yang dari luar negeri.Â
"Yang sekolah di sini, mulai dari kelas 6 SD sampai kelas 3 SMA," jelas Jeremy.
Minat para siswanya untuk belajar Bahasa Indonesia, katanya cukup tinggi, sehingga dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran pilihan. "Cukup banyak peminatnya. Rata-rata mereka sudah bisa berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia," ujarnya.
Lalu berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh siswa untuk sekolah di sini? Jeremy mengatakan, perbulannya siswa cukup membayar 100 dolar atau sekitar 1 jutaan jika dirupiahkan.Â
Kepala Sekolah Helena College Ian Neil mengatakan, jumlah keseluruhan siswa di sekolah ini mencapai 400 siswa. Untuk 1 kelas diisi oleh 20-25 siswa."Lebih efektif dengan 20-25 siswa dalam satu kelas," jelasnya.
Tenaga pengajar di sekolah ini juga tidak hanya berasal dari Perth dan kota-kota lainnya di Australia, akan tetapi juga berasal dari negara lainnya seperti Prancis, Jerman, Selandia Baru, Afrika Selatan dan beberapa negara lainnya di dunia. "Guru-guru itu memberikan tes untuk para siswa dalam bentuk essay," katanya.
Namun demikian, ada yang unik di sekolah ini. Jika ingin mengambil gambar para siswa harus ada izin dari orang tua. Biasanya, orang tua siswa membuat surat boleh atau tidak anaknya difoto. Jika tidak boleh, jangan coba-coba mengambil gambar. Ini ditemukan oleh rombongan guru favorit saat ingin mengambil gambar siswa yang sedang latihan bermain musik.
Guru-guru melarang diambil gambar karena orang tuanya tidak memperbolehkan. Mereka begitu taat aturan. "Siswa yang nakal juga dilarang untuk dipukul. Dalam antrian tidak boleh terjadi kontak fisik. Kalau mereka nakal cukup ditegur, kalau masih juga dipanggil ke kantor atau dipanggil orang tuanya ke sekolah. Di Australia, memukul siswa sangat dilarang keras," timpal Jeremy.
Hampir 2 jam rombongan guru favorit Jambi Ekspres mengelilingi sekolah tersebut. Dari pukul 10 hingga pukul 12 siang waktu Perth. Dua orang staf KJRI Perth yakni Consul
Widya Sinedu bersama stafnya Safari Hidayat selalu setia mendampingi. Banyak pengalaman baru yang didapat di sekolah ini, sampai akhirnya rombongan guru favorit ini pun harus pamit karena akan mengunjungi sekolah lainnya. "Kami berterima kasih atas sambutan yang diberikan," ujar Ketua Rombongan Guru Favorit Jambi Ekspres Pirma Satria. (bersambung)
Alamat: Jl. Kapten Pattimura No.35, km 08 RT. 34, Kenali Besar, Alam Barajo, Kota Jambi, Jambi 36129
Telpon: 0741.668844 - 0823 8988 9896
E-Mail: jambiupdatecom@gmail.com