Ihsan Yunus, Anggota Komisi VI DPR, Fraksi PDIP, Dapil Jambi.
JAMBIUPDATE.CO, JAMBI- Komoditi kelapa sawit merupakan salah satu komoditi yang memberikan sumbangan signifikan bagi perekonomian nasional. Industri kelapa sawit terbukti menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi salah satu sektor penghasil devisa terbesar dari kegiatan ekspor.
Berdasarkan catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki), jumlah tenaga kerja di seluruh rantai pasok industri sawit bisa mencapai 17,5 juta orang dan dari sisi devisa dari ekspor, setiap tahunnya sawit menyumbang lebih dari US$ 20 miliar.
Hanya saja terdapat tren penurunan ekspor crude palm oil (CPO) di paruh pertama tahun 2018 ini. Ekspor CPO merosot 6%. Penurunan ekspor ini membuat neraca perdagangan nasional mengalami defisit US$ 2,03 milir pada bulan Juli 2018.
Melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditengarai menjadi satu faktor penurunan. Belakangan industri sawit Indonesia juga menghadapi berbagai tudingan negatif di dunia internasional mulai dari pelanggaran tata ruang dan kontribusinya pada kebakaran hutan, isu eksploitasi tenaga kerja, sampai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Provinsi Jambi sendiri merupakan daerah yang cukup bergantung pada komoditi kelapa sawit dalam menopang perekonomiannya. Data menunjukkan ekonomi Jambi tumbuh lebih dari 4% pada triwulan-II 2018 apabila dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal tersebut didominasi industri makanan berbasis kelapa sawit serta industri karet. Tren sendiri menunjukkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Jambi yang berangsur naik, sedikit demi sedikit.
Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, harga sawit pada September 2018 naik menjadi Rp 1.496 per kilogram dibandingkan Rp 1.473 di bulan sebelumnya.
Dimintai tanggapannya tentang persoalan yang menerpa industri berkomoditi kelapa sawit di Indonesia, Ihsan Yunus, Anggota Komisi VI DPR, Fraksi PDIP, Dapil Jambi, mengatakan banyak kampanye hitam menerpa komoditi sawit Indonesia.
Saya melihat ini bisa saja didengungkan negara lain yang jadi kompetitor kita di pasar internasional. Pemerintah harus memastikan industri sawit patuh terhadap hukum mulai dari hulu ke hilir, aspek lingkungan, perpajakan, tenaga kerja dan sebagainya agar tidak ada lagi berita miring terhadap industri sawit nasional," ujarnya.
Selain itu, sebagai salah satu primadona ekspor, industri juga harus bebenah meningkatkan standar industri kelapa sawit agar semakin diakui pasar internasional,†ujar Ihsan.
Ihsan juga menggarisbawahi upaya-upaya yang sudah dilakukan sekaligus dicapainya dalam memastikan komoditi sawit dapat tetap menjadi sumber perekonomian Provinsi Jambi.
“Alhamdulillah, baru-baru ini, bertepatan dengan hari kemerdekaan yang lalu, saya pribadi berhasil mengadvokasi program replanting karet ke sawit untuk petani di Desa Guruh Baru, Sarolangun dan di Desa Terentang Baru, Batanghari, Jambi. Sudah ditandatangani Nota Kesepahaman antara PTPN VI dan koperasi-koperasi petani. Sebelumnya saya juga, atas izin Allah SWT, sudah berhasil mengadvokasi untuk terlaksananya program Industri Kecil Menengah (IKM) berupa pelatihan penumbuhan dan pengembangan pupuk dan pakan ternak berbasis kelapa sawit di beberapa kabupaten di Jambi yaitu Merangin, Bungo, Tebo dan Batanghari. Hal ini penting untuk memanfaatkan pula industri sampingan (side industry) dari kelapa sawit yang juga dapat memberikan keuntungan besar, “tambah Ihsan. (aiz)
Alamat: Jl. Kapten Pattimura No.35, km 08 RT. 34, Kenali Besar, Alam Barajo, Kota Jambi, Jambi 36129
Telpon: 0741.668844 - 0823 8988 9896
E-Mail: jambiupdatecom@gmail.com