Foto dokumentasi Barisan Selempang Merah foto bersama.

Berjuang Usir Belanda, Pakai Rompi Anti Peluru

Posted on 2017-10-29 10:09:09 dibaca 2763 kali

JAMBIUPDATE.CO, KUALATUNGKAL-Kabupaten Tanjung Jabung adalah Kabupaten induk sebelum pemekaran Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Berbagai cerita pun meliputi Kabupaten Tanjung Jabung yang saat ini menjadi Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang beribu kota Kuala Tungkal.

Tanjung Jabung Barat memiliki andil sejarah penting dalam kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di Provinsi Jambi.

Ialah Barisan Selempang Merah yang melegenda dan sering didengar ceritanya di Kualatungkal. Cerita pejuang nan hebat pun menyertai Barisan Selempang Merah tersebut.

Berdasarkan sejarah, Selempang Merah merupakan sebuah perkumpulan kebathinan bernafaskan agama Islam yang dibentuk bertujuan mengusir keberadaan pasukan belanda di Kualatungkal.

Barisan Selempang merah ini beranggotakan masyarakat dari berbagai suku bangsa yang berada di Tanjung Jabung saat itu. Mulai dari Banjar, Bugis, Jawa, Melayu dan lain-lain. Tak tanggung-tanggung anggotanya pun mencapai 3000-an orang yang tersebar di sepanjang pesisir Tanjung Jabung.

Perkumpulan tersebut merupakan Fraksi Barisan Pejuang Hisbullah yang terbentuk sebelum terjadinya agresi Belanda ke II (1949) dengan keyakinan perjuangannya didasarkan mengamalkan bacaan-bacaan dari Alquran, Hadist dan amalan para wali.

Tentara Belanda yang berusaha memasuki Kota Kuala Tungkal melalui jalur laut. Sejarah yang paling dikenang, ada saat kedatangan Belanda kemudian menghujani Kota Kuala Tungkal dengan tembakan altereli pada 21 Januari 1949.

Sasarannya antara lain tempat ibadah, seperti Masjid Raya Jami (Kuala Tungkal Ulu) dan Mesjid Agung (Kuala Tungkal Ilir).

Dalam serangan tersebut Belanda meruntuhkan menara Masjid Agung yang pada saat itu sedang ramai jamaah yang hendak melaksanakan salat. Akibatnya para jamaah membubarkan diri menghindarkan serangan yang membabi buta dan mengungsi keberbagai tempat yang dirasa aman.

Pada hari yang sama sekira pukul 16.00 WIB pasukan Belanda berhasil menguasai Kuala Tungkal. Membalas serangan tersebut, pada 22 Januari 1949 Panglima Adul menemui KH. M. Daud Arief yang berada diparit H. Yusuf (Tungkal V) untuk berkonsultasi rencana serangan balasan.

Serangan balasan yang direncanakannya itu dilaksanakan pada 23 Januari 1949 oleh pasukan Selempang Merah yang dipimpin Panglima Abdul Samad atau Panglima Adul.

Berkekuatan 24 orang, Barisan Selempang Merah ini menyerang kedudukan pasukan Belanda di Kuala Tungkal. Dengan bercirikan pita berwarna merah pada setiap pasukan kontak senjata dengan pasukan Belanda terjadi.

Pada 28 januari 1949 satu regu pasukan TNI yang dipimpin oleh Letda A. Fattah L. Juga bergerak dari Desa Pembengis menuju Kota Kuala Tungkal untuk melakukan penyerangan.

Penyerangan gabunganpun dilakukan pada 13 Februari 1949 oleh Barisan Selempang Merah dan TNI, dimana Barisan Selempang Merah hanya sebanyak 115 orang.

Dalam penyerangan ini Barisal Selempang Merah hanya menggunakan senjata tradisional seperti parang dan badik. Pasukan Selempang Merah pun dibagi 4 kelompok yang masing-masing dipimpin oleh Abdul Samad, H. Saman, H. Nafiah, dan Zaidun.

Dimana dalam penyerangan bersama ini Barisan Selempang Merah dipimpin Panglima Adul, sedangkan TNI dipimpin Serma Murad Alwi bersama Serma Buimin Hasan. Penyerangan ini dilandasi keyakinan bahwa apabila gugur mereka mati syahid demi negara, bangsa, agama dan Kota Kuala Tungkal.

“Selempang Merah merupakan atribut yang dikenakan oleh pejuang yang tidak semua orang dapat memakainya. Untuk dapat mengenakannya mereka harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Barisan Selempang Merah ini merupakan barisan pejuang rakyat Kuala Tungkal yang rela berkorban mengusir penjajah Belanda demi mempertahankan kemerdekaan semata-mata karena Allah,” ujar Ahmad Yani AZ anak dari pejuang H. Ahmad Zaini salah satu pejuang kualatungkal saat bercerita mengenai Pasukan Selempang Merah, Sabtu (28/10) kemarin.

Selain itu kata dia, ada pada pejuang yang memiliki kesaktian yang di luar batas kemampuan manusia. Dengan memiliki benda-benda yang dikeramatkan hingga saat ini diserah kan pada museum.

“Baju Rompi Rajah, Parang Bungkul, Keris dan Jimat milik Datuk Ahim A. Gani, tokoh Pejuang Veteran Barisan Selempang Merah dari Parit Deli. Baju rompi tersebut bisa anti peluru dan yang lainnya sebagai senjata perang,” bebernyanya.

Dengan banyak mengumpulkan bahan-bahan dan bukti sejarah yang A. Zaini kumpulkan. Ia mampu mengangkat cerita ini kepermukaan, maka diharapkan generasi muda dan anak cucu Bumi Serengkuh Dayung dapat melestarikan keberadaan sejarah tersebut.

“Jika kita bisa menceritakan kembali, berarti kita dapat melestarikan budaya nilai warisan sejarah Kuala Tungkal,” tandasnya.

Ia juga berharap, dengan mengetahui sejarah Laskar Selempang Merah ini, para pemuda-pemudi dapat bersyukur hidup nyaman atas keringat, darah, perjuangan para pejuang. Ia mengajak para generasi bangsa dapat selalu mendoakan pejuang kemerdekaan. (sun)

Copyright 2019 Jambiupdate.co

Alamat: Jl. Kapten Pattimura No.35, km 08 RT. 34, Kenali Besar, Alam Barajo, Kota Jambi, Jambi 36129

Telpon: 0741.668844 - 0823 8988 9896

E-Mail: jambiupdatecom@gmail.com